Pandangan Islam terhadap Kedudukan wanita

Tulisan ini saya sarikan dari tulisan DR. Zahra’ Mushthafawi (puteri
Imam Khumaini ra). Dalam tulisannya ia memapaparkan pandangan Imam
Khumaini (ra) terhadap kedudukan wanita.

Untuk membicarakan topik ini, kita harus mengetahui dua persoalan yang
amat penting, yaitu:
Pertama: sebagai dasar argumen saya harus menjelaskan dengan
penjelasan yang sebenarnya bahwa Islam dan Imam Khumaini (ra) tidak
pernah menyebut wanita sebagai makhluk yang berbeda dengan laki-kali
dari sisi: penciptaan, ketaatan, ibadah, siksa dan pahala. Bahkan
begitu hormatnya Imam Khumaini (ra) terhadap hak-hak wanita, beliau
sering menegaskan persoalan-persoalan wanita dalam acara-acara dan
hari-hari yang khusus bagi wanita. Tujuannya jelas adalah untuk
memberikan nilai dan kedudukan yang mulia bagi wanita.

Kedua: Dalam sebagian pembahasan dan kajian tentang hak dan hakikat
wanita sering dijumpai banyak kelemahan dan kekurangan. Ini jelas
disebabkan oleh pandangan dan pemikiran yang salah tentang hakikat
wanita. Karena itu untuk membahas tentang makhluk yang mulia ini dan
kedudukannya yang sejati di tengah-tengah masyarakat, dari sudut
pandang Islam, membutuhkan kajian yang cukup mendalam dan mendasar.

Pandangan terhadap kesejatian wanita bergantung pada pandangan kita
terhadap keterciptaan alam. Pendangan terhadap wanita bermacam-macam:
Dunia barat dengan kapitalisme punya pandangan tersendiri, dunia timur
dengan sosialisme juga punya pandangan tersendiri. Kedua pandangan ini
tujuannya sama, yang berbeda hanya cara mencapainya. Yang satu
bersifat individual, dan yang lain bersifat kolektif. Keduanya
bertujuan pada materi.

Kami memandang bahwa pembahasan ini tak akan membuahkan hasil selama
pandangan kita belum ada perubahan terhadap tujuan penciptaan alam,
dan pandangan terhadap kesejatian kedudukan wanita.

Sungguh sekarang sudah saatnya kaum wanita muslimah menuntut
kesejatian haknya yang telah lama dibelenggu, dirampas dan dihinakan.

Kaum wanita muslimah harus benar2 memiliki kemampuan untuk memahami
pemikiran yang menyimpang, baik dari barat maupun timur, atau yang
mengatasnamakan Islam. Karena akibat dari pemikiran inilah peradaban
manusia telah dihancurkan.

Kita harus mengenal bahwa wanita adalah makhluk Allah swt yang punya
kemampuan untuk mencapai derajat manusia yang mulia. Pandangan dan
pemikirannya dapat menyinari sejarah manusia, revolusi, dan
kebangkitan melalui sinar cahayanya yang khas.

Kita harus menyadari bahwa kezaliman dan pribadi-pribadi yang hina,
mereka akan memadamkan cahaya kaum wanita, dan hanya memanfaatkan
tubuh dan bilogisnya. Orang-orang jahiliyah di zaman dahulu mengubur
tubuh wanita hidup-hidup. Tapi jahiliyah di abad modern mengubur
pribadi dan spiritual kaum wanita muslimah. Imam Ali bin Abi Thalib
(as) pernah berkata: “Aku heran terhadap orang yang mencari barangnya
yang hilang, tetapi tak pernah mau mencari dirinya.”

Imam Khumaini (ra) berkata: “Awal perjalanan spiritual adalah
kebangkitan”.
Khawwajah Al-Anshari (ra) mengatakan: “Awal perjalanan spiritual
adalah kebangkitan dan penjagaan kesucian diri.”

Kaum wanita harus bangkit. Allah swt menyerukan kita: “Hendaknya kamu
bangkit.” (Saba’: 46). Ayat ini menyerukan pada kesadaran, dan
kesadaran merupakan bagian dari kebangkitan. Yakni kesadaran dari
kelalaian yang harus diikuti oleh kebangkitan.

Sekarang ini kita sedang berada dalam kondisi yang mabuk dan lalai
akibat watak hewani yang dibelenggu oleh syahwati. Watak yang membius
seluruh orgam tubuh kita, lalu kita mendengar panggilan Ilahi yang
menyerukan kita harus bangkit dari tidur panjangnya.

Dengan adanya kaidah: “kenalilah sesuatu melalui lawannya”. Ini
mengharuskan kita mengenal: Mengapa terjadi kelalaian terhadap Yang
Maha Suci? Dan Zat Yang Maha Suci hadir tanpa suatu undangan?

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari simak pernyataan Imam Khumaini (ra):
“Kebiasaan yang menyimpang adalah kegelapan, dan akhlak yang hina
adalah kabut yang menghitam. Cahayanya adalah seruan Allah swt, dan
Islam yang membimbing kita kepada-Nya. Bergegaslah beramal dengan
hukum-hukum Islam dan tolaklah selain itu.”

Memang watak buruk dapat merubah kehidupan manusia. Manusia manjadi
tidak mengenal dirinya dan asing dari dirinya sendiri. Inilah yang
terjadi saat nilai-nilai kesejatian Islam dan manusia telah padam.
Akhlak yang mulia menjadi rusak dan hina, manusia dikuasi amarah dan
syahwat hewaninya.

Orang-orang yang dekat dengan penguasa yang zalim akan memamfaatkan
kesempatan ini, membuat perangkap-perangkap dan langkah-langkah untuk
menjerumuskan manusia khususnya wanita ke lembah kehinaan dan
kehancuran. Langkah-langkah keji ini akan memadamkan api spiritual
manusia khususnya wanita. Mereka menyebarkan perangkap-perangkap itu
di tengah-tengah masyarakat, lalu menggiring kaum wanita pada jurang
kehinaan.

Agar kaum wanita tidak terjebak oleh pemikiran yang hina yang
nampaknya Islami tapi sebenarnya tidak, mari kita simak pernyataan
Imam Khumaini (ra) yang beliau sampaikan pada Hari Wanita thn 1980:

“Fatimah Az-Zahra’ adalah sosok wanita yang memiliki
keutamaan-keutamaan yang tidak kurang dari keutamaan-keutamaan Nabi
saw dan Ahlul bait (as) yang suci dan makshum. Kita harus memfokuskan
pandangan kita pada keutamaan-keutamaan wanita. Tulisan-tulisan yang
penuh racun, narasi-narasi bayaran dan kebodohan telah tersebar di
celah-celah 50 tahun yang lalu pada masa Pahlavi. Sehingga ia
menjadikan kaum wanita sebagai barang dagangan.”

Dari paparan DR. Zahra’ Mushthafawi, dapatkan kita simpulkan:
1. Kaum wanita memiliki kedudukan yang mulia di tengah2 masyarakat
2. Kaum wanita mampu mencapai prestasi sebagaimana dicapai oleh kaum
laki-laki.
3. Kaum wanita dapat menduduki kedudukan yang mulia bukan hanya laki-laki.
4. Kaum laki-laki tidak boleh merendahkan martabat wanita.
5. Kaum laki-laki tidak boleh memadamkan cahaya spiritual kaum wanita
6. Kaum laki-laki jangan menganggap wanita sebagai barang dagangan
yang bisa ditukar dengan materi dan uang.
7. Perdagangan itu memang ada dua macam: ada yang halal dan ada yang
haram. Kedua2nya tak boleh dijadikan sarana utk merendahkan dan
menghinakan martabat wanita.
8. Kaum laki-laki jangan hanya memanfaat kaum wanita untuk kepuasaan
syahwat hewaninya, dengan menggunakan legalitas syariat lalu
membelenggu potensi mereka. Syariat turun bukan untuk itu. Jika
syariat ditegakkan tanpa memperdulikan (dipisahkan dari) akidah dan
akhlak bukan cahanya yang akan didapatkannya, tetapi kegelapan dan
kehinaan yang akan dimasukinya.
9. Kaum laki-laki harus menghormati kedudukan mulia kaum wanita.
Karena secara potensi laki-laki dan wanita sama, bisa mencapai
kedudukan dan prestasi yang mulia.

Tulisan disarikan dari tulisan DR. Zahra’ Mushthafawi puteri Imam
Khumaini (ra).

Tarawih….antara Nash dan Ijtihad

Bulan September 2008, adalah bulan dimana muslim seluruh  dunia akan memasuki bulan mulia Ramadhan. Dan sesuatu hal yang dapat dipastikan bahwa banyak dari kaum Muslim yang akan berbondong pergi ke masjid, meskipun di akhir-akhirnya [biasanya] jadi tinggal 3-4 shaf saja.  Terlepas dari itu semua, saya sengaja ,mengangkat sebuah tema mengenai shalat sunnah yang berjamaah ini.

 

Banyak pendapat dari berbagai otoritas agama baik itu kalangan sunni maupun syiah mengenai boleh tidaknya shalat tarawih dilakukan dengan berjamaah.  Baiklah untuk memahami masalah ini mari kita mengulas satu persatu.

 

Dari kalangan sunni terdapat catatan hadist dari kitab shahih yang meriwayatkan dari Abdurahman ibn Abd (Al-Qari), ia berkata:

“ Pada suatu malam di bulan Ramadhan, aku keluar bersama Umar menuju masjid. Kami melihat banyak orang sedang shalat sendiri-sendiri. Masing-masing terpisah dari [yang] lainnya. Melihat hal itu, Umar berkata, “Seandainya orang-orang itu aku kumpulkan dalam satu jamaah yang dipimpin oleh seorang imam, tentu lebih baik.”

Kemudian Umar menetapkan niatnya itu dan mengumpulkan mereka semua dalam satu jamaah yang dipimpin oleh Ubay ibn Kaab. Abdurrahman berkata lagi bahwa setelah itu, pada malam yang lain, aku keluar lagi bersama Umar, sementara orang-orang sedang melaksanakan shalat mereka di belakang seorang imam. Ketika menyaksikan hal itu, Umar berkata, “Ni’matil bid’ah hâdzihi.”

“Inilah bid’ah yang paling baik”, begitulah kata Khalifah Umar dalam Shahîh Al-Bukhârî bab “Shalâh Tarâwîh”. Meskipun bid’ah tapi ini baik, makanya ada istilah bid’ah hasanah.

 

 Kisah ini terjadi kira-kira dipertengahan masa pemerintahan Khalifah Umar, jadi pada masa Nabi saww, Abu Bakar, dan paruh pertama masa Umar, belum ada shalat tarawih. Biasanya disebut qiyâm al-layl tanpa berjamaah.

 

Sedang beberapa lagi bayak catatan yang terekam dalam hadist yang banyak diriwayatkan dari para ulama2 sunni.

Tarawih Berjama’ah atau Sendirian

Di dalam Sahih Muslim, diriwayatkan sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah ra bahwa ia menceritakan: “Nabi SAW bersabda dalam khutbah beliau pada hari Jumat: “Amma ba’du: “sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah Kitabullah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW, seburuk-buruk urusan adalah yang dibuat-buat. Setiap yang dibuat-buat adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat.(HR. Sahih Muslim)

 

Rasul Tidak Menyuruh Tarawih Berjama’ah:

Telah diriwayatkan oleh Aisyah, beliau berkata:”Bahwasannya Nabi Muhammad saw shalat di masjid maka banyak orang mengikut baginda, begitu juga malam keduanya, Nabi shalat dan pengikut bertambah ramai. Pada malam ketiga dan keempaat ramai orang berkumpul menunggu Nabi, tetapi Nabi tidak datang ke masjid lagi. Pagi-pagi Nabi berkata: aku tahu apa yang kamu buat malam tadi, tetapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali kalau-kalau shalat ini diwajibkan untukmu”. (HR. Sahih Bukhari)

Dari Aisyah bahwa pada suatu malam Rasulullah saw berada di mesjid. Beliau saw shalat, maka orang banyak mengikuti pula beliau shalat. Malam berikutnya beliau saw shalat pula. Orang yang mengikutinya pun bertambah banyak. Pada malam ketiga atau mungkin malam ke empat orang semakin banyak berkumpul, tetapi Rasulullah saw tidak datang. Besok pagi beliau bersabda: “Sesungguhnya aku telah tau apa yang kalian lakukan. Tidak suatupun yang melarangku untuk keluar untuk shalat malam. Hanya aku khawatirkan kalau perbuatan itu menjadi wajib atasmu.” Peristiwa itu terjadi dibulan Ramadhan”. (HR. Sahih Bukhari, Juz 2/3)

Shalat Sunah Malam itu Dikerjakan di Rumah

Dari Ibnu Umar, ia berkata: “Aku shalat beserta Nabi saw 2 raka’at sebelum Zuhur dan 2 raka’at sesudah Zuhur, 2 raka’at sesudah Maghrib, 2 raka’at sesudah Isya dan 2 raka’at sesudah jum’at. Adapun shalat sunnah sesudah Maghrib dan Isya itu beliau melakukan di dalam rumahnya.” (HR. Sahih Bukhari, Juz 2)

Shalat Tarawih itu Dilakukan di Rumah (Tidak Berjama’ah)

Dari Zaid bin Tsabit bahwasannya Rasulullah saw membuat sebuah kamar kecil di bulan Ramadhan. Said berkata: “Aku kira bahwa Zaid bin Tsabit mengatakan bahwa hal itu dibuat dari sebuah tikar.” Dan beliau shalat di belakangnya. Orang-orang melihat beliau shalat dan mengikutinya. Waktu beliau mengetahuinya, beliau duduk. Pagi harinya, beliau keluar menuju mereka dan bersabda: “Aku telah mengetahui apa yang kamu lakukan. Wahai manusia, shalatlah di dalam rumah-rumahmu. Karena seutama-utama shalat adalah shalat seseorang di rumahnya kecuali shalat fardhu (wajib).” (HR. Sahih Bukhari, Juz 1)

Tarawih Berjama’ah Adalah Buatan 

 

Dalam sebuah hadis dari Abdur Rahman bin Abdul Qari r.a seorang Tabi’in yang hidup pada masa Rasulullah saw berkata : “Saya keluar bersama Umar bin Al-Khattab pada suatu malam bulan Ramadhan pergi ke masjid (Madinah). Didapati dalam masjid orang-orang melaksanakan sholat tarawih bercerai-cerai, ada yang sholat bersendirian, ada yang sholat dan ada beberapa orang di belakangnya. Maka Umar ra. berkata, “Aku berpendapat akan mempersatukan orang-orang ini. Kalau disatukan dengan seorang imam sesungguhnya lebih baik, lebih serupa dengan sholat Rasulullah”. Maka disatukan orang-orang itu sholat di belakang seorang imam bernama Ubai bin Ka’ab. Kemudian pada suatu malam (yang lain) kami datang lagi ke mesjid, lantas kami melihat orang-orang sembahayang berjama’ah di belakang seorang imam. Umar ra. berkata; “Ini adalah bid’ah yang baik“. (HR. Sahih Al-Bukhari)

Dari Abdurrahman bin Abdul Qari bahwasannya ia berkata: “Saya keluar bersama Umar bin Khattab. Pada suatu malam dalam bulan Ramadhan sampai tiba dimesjid. Tiba-tiba orang-orang bersma berkelompok-kelompok tetapi berpisah-pisah dan setiap orang shalat untuk dirinya sendiri, sedangkan jika sudah ada yang shalat, misalnya satu orang, kemudian yang datang dibelakangnya itu terus ikut bermakmum kepadanya sehingga menjadi kelompok tersendiri. Maka Umar bin Khattab lalu berkata: “Sesungguhnya aku mempunya pendapat bagaimanakah seandainya semua orang itu aku kumpulkan menjadi satu dan mengikuti seorang imam yang pandai membaca AL-Quran tentu lebih utama. Setelah Umar mempunyai azam, lalu dia mengumpulkan orang menjadi satu dan diantara mereka ada yang di angkat menjadi imam, yaitu Ubay bin Ka’ab. Kemudian pada malam yang lalu aku keluar bersama Umar, sedang para manusia sama shalat dengan imam yang ahli dalam Al-Quran. Kemudian Umar berkata: “Inilah sebaik-baik BID’AH dan orang yang tidur dulu dan meninggalkan shalat pada permulaan malam adalah lebih utama daripada orang yang mendirikannya dan yang dimaksudkan oleh Umar adalah pada akhir malam. Adapun orang-orang itu sama mendirikan pada permulaan malam.” (HR. Sahih Bukhari, Juz 3)

Kesimpulan

Hal ini tertulis jelas di dalam kitab-kitab besar Ahlussunnah. Bahwa Nabi Saw telah menunjukkan mana yang seharusnya dilakukan. Nabi Saw mengatakan segala hal yang baru/dibuat-buat atau bid’ah adalah sesat.

Tentang solat malam (Tarawih), memang Nabi Saw pernah solat di masjid, akan tetapi pada akhirnya beliau Saw menyuruh orang-orang untuk melakukan solat di rumah masing-masing. Bukankah adalah yang terbaik apabila kita mengikuti petunjuk dan perintah Nabi kita sendiri?

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Apa yang diajarkan Rasulullah kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7)

 

Jadi manakah yang seharusnya kita ikuti..? Shalat Tarawih sendiri-sendiri di rumah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Nabi Saw atau shalat tarawih berjamaah di Masjid? Sunah Nabi Muhammad Saw atau tambahan yang mengatas namakan ijtihad ? Kalau kita tetap mengikuti apa yang dikatakan oleh Umar bin Khattab, maka kita telah berlebih-lebihan terhadapnya dan menjadikan Umar lebih baik daripada Nabi Saw, inilah yang dinamakan ‘Ghulluw’. Apalagi dengan jelas Umar mengatakan bahwa “inilah sebaik-baik bid’ah!”, na’udzibillah. Mungkin sebagian besar umat Islam mengatakan bahwa ini adalah Bid’ah Hasanah (Bid’ah yang baik sesuai dengan perkataan Umar), bisakah hal ini dibenarkan oleh akal sehat sedangkan sunnah telah mengatakan lebih dulu tentang shalat malam (tarawih) yang terbaik adalah dilakukan di rumah? Akal sehat akan melihat mana yang sesuai dengan sunnah dan mana yang bertentangan.

 

Sekedar Catatan

 

Di dalam Sahih Muslim, diriwayatkan sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah ra bahwa ia menceritakan: “Nabi SAW bersabda dalam khutbah beliau pada hari Jumat: “Amma ba’du: “sesungguhnya sebaik-baiknya ucapan adalah Kitabullah, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW, seburuk-buruk urusan adalah yang dibuat-buat. Setiap yang dibuat-buat adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat.(HR. Sahih Muslim)

Dalam riwayat Muslim dan diriwayatkan juga oleh Al-Bukhari dengan sanad muallaq dalam Shahih-Nya namun dengan cara periwayatan yang tegas: “Barangsiapa yang mengamalkan ibadah tanpa ajaran dari kami, maka amalannya itu tertolak.” (HR. Sahih al-Bukhari & Muslim)

Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang membuat-buat ibadah dalam agama ini maka amalannya itu tertolak.” (HR. Sahih al-Bukhari & Muslim)

Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru. Setiap yang baru adalah bid’ah. Setiap yang bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat di dalam

 

Dari paparan serta rujukan dalil diatas sudah dapat kita pahami bahwa shalat sunnah pada bulan ramadhan adalah hukumnya sunnah, dan tidak dilakukan secara jamaah, sekarang mari kita kembalikan pada diri kita masing masing dengan mengedepankan pemikiran dan akal sehat

 

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.

Mengenal Jamaah An-Nadzir

Tiada lain tulisan ini di buat selain untuk lebih mengenal keanekaragaman kelompok2 maupun haraqah dalam islam sebagai khazanah dan keindahan islam .  Tulisan dibawah diberitakan oleh salahsatu televisi swasta pada tahun lalu, disaat perdebatan kontroversi penetapan shalat idhul fitri tahun 2007.

 Dibawah ini adalah salah satu kutipan mengenai jamaah ini.

 Ajaran An-Nadzir ini masuk ke Kabupaten Gowa melalui Syech Muhammad Al Mahdi Abdullah, imam kaum An-Nadzir pada tahun 1998. Jamaah ini, berbeda dengan jemaah lainnya karena mereka mengenakan jubah dan sorban berwarna hitam yang dipadukan dengan ikatan kepala berwarna putih.

 Jamaah kelompok ini mudah dikenali dari penampilannya seperti berambut pirang dengan panjang rambut sebatas bahu, menggunakan sorban, mengenakan jubah hitam,sedangkan penduduk sekitar hanya mengenakan baju koko dan jubah berwarna putih.

 

Demikian pula jemaah wanita An-Nadzir, sebagian diantara mereka, ada yang mengenakan cadar dan jubah sedangkan yang lainnya, terlihat hanya mengenakan mukenah seperti yang dipakai orang-orang muslim pada umumnya.

 Menurut salah satu pimpinan jamaah ini mengatakan bahwa “Kami konsisten menjalankan ajaran Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW,” ujarnya. Dalam khutbahnya, ustadz Lukman mengatakan bahwa Islam tidak mempunyai kekuatan dan daya tapi dia bisa memiliki itu bila bersatu padu. 

 Dia juga menambahkan, Islam bukan sekedar agama, tetapi suatu tatanan hidup bagi kaum yang ingin hidup dengan selamat.

 


Dengan mengenakan jubah warna hitam, para jamaah An Nadzir tampak khusyuk mengikuti salat.

 

 

 

 

 

 

   

 

Dalam melaksanakan salat Idul Fitri, mereka mengaku mempunyai dasar dalam menentukan waktu salat Ied ini. Mereka mendasarkan perhitungannya pada bulan yang terbit (Syawal) juga ditunjang faktor alam lainnya seperti hujan dan guntur

 

 

 

 

 Dalam sholat Ied ini, anak-anak berumur 10 tahun ke bawah yang juga mengenakan jubah dan sorban terlihat dipisah dalam satu barisan tersendiri.

 

 

 

 

 

 Jamaah An Nadzir juga memiliki penampilan fisik yang berbeda dengan banyak umat muslim lainnya. Mereka mengecat ramburtnya dengan warna pirang, merah dan keemasan serta berpeci lancip

 

 

 

  

 

 Para kaum wanita jamaah An Nadzir mengenakan jubah hitam dengan cadar menutupi wajah. Sekitar 90 kepala keluarga anggota jamaah An Nadzir mendiami Kelurahan Buttadidia denngan rumah terbuat dari anyaman bambu dan atap berasal dari rumbai-rumbai

 

 

 Lebih Dekat dengan Jamaah An Nadzir-Sulsel

 Tinggal di Tepi Danau, Pilih Rambut Pirang dan Jubah Hitam Sudah delapan tahun jamaah An Nadzir membangun permukiman di tempat terpencil, tepi Danau Mawang, Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Mereka memilih menetap jauh dari keramaian dengan harapan bisa lebih khusyuk beribadah.

MESKI hanya 20 kilometer dari Kota Makassar, jalan menuju ke Danau Mawang, tempat permukiman itu, masih jelek. Lokasinya yang terpencil mengakibatan harian Fajar (Jawa Pos Group) harus bertanya beberapa kali. Akibatnya, setelah sekitar sejam mencari baru sampai ke tujuan.

Nama An Nadzir berarti pemberi peringatan. Sekilas perilaku mereka memang unik, termasuk gaya berbusana. Tapi, jamaahnya menolak dikatakan ikut aliran atau komunitas eksklusif. Seperti umat muslim yang lain, mereka mengaku sangat konsisten dalam menjalankan Alquran dan Al Hadis.

Jamaah An Nadzir untuk wilayah Sulsel tersebar di Makassar, Kabupaten Maros, Kota Palopo, dan Kabupaten Gowa. Selain itu, juga terdapat di Medan (Sumut), Jakarta, dan sebagian kecil di luar negeri. Khusus Gowa, jamaahnya ada 100 kepala keluarga (KK) dengan rata-rata setiap rumah dihuni lima orang. Sehingga keseluruhan jemaah An Nadzir di daerah ini sekitar 500 orang.

Seperti kebanyakan umat Islam, jamaah An Nadzir mengisi Ramadan dengan berbagai kegiatan, kecuali salat tarawih berjamaah. Alasannya, hal ini sesuai dengan tuntunan Rasul. “Salat tarawih ditiadakan untuk menghindari jadi wajib,” jelas Ustad Rangka, pimpinan An Nadzir Gowa, saat ditemui di kediamannya yang sederhana di tepi Danau Mawang.
Menurut Ustad Rangka, pada zamannya Nabi Muhammad memang pernah melaksanakan salat tarawih pada malam 23, 25, dan 27. Namun, setelah itu tidak dilaksanakan lagi. “Ketika para sahabat Nabi bertanya, Rasulullah menjawab itu dilakukan karena takut nanti salat tarawih menjadi kewajiban,” katanya.

Menurut Ustad Rangka, para jamaah berbuka puasa dengan patokan alam. Yakni, ketika tergelincirnya matahari. “Saya tidak mengacu pada jam berapa atau pukul berapa. Meski begitu, kami juga tak menafikan jam karena sangat membantu,” paparnya.

Untuk pelaksanaan salat Isya, lanjut Ustad Rangka, juga mengikuti kebiasaan Nabi, yakni di dua pertiga malam. ” Sekitar pukul 03.00 Wita, karena memang tidak memberatkan bagi kami. Selanjutnya melaksanakan sahur sesuai petunjuk yang ada. Intinya memperlambat sahur mempercepat buka puasa sesuai perintah Rasullullah,” katanya. Pada malam hari Ramadan ini juga ada jamaahnya yang tafakur di alam terbuka.

Meski menetap di lokasi terpencil, jamaah An Nadzir tetap berinteraksi dengan masyarakat sekitar Kelurahan Mawang, Kecamatan Somba Opu. Untuk mencari nafkah, jamaah An Nadzir berkebun dan bertani. Mereka menggarap lahan seluas dua hektare yang ditanami cabai kecil dan adi.

Ustad Rangka mengakui, dia dan jamaah An Nadzir mengenakan jubah hitam, sorban, dan rambut yang dibuat pirang ini untuk menjalankan sunah Rasul. “Kami di sini tak mengembangkan ajaran sesat,” katanya.

Menurut Ustad Rangka, An Nadzir bukanlah komunitas atau aliran serta bukan pula Syiah atau Sunni. “Kami adalah Ahlul Bait. Ahlul Bait di sini berarti menjalankan Alquran dan hadis secara konsisten,” katanya.

Salah seorang jamaah An Nadzir, Iwan, mengaku memutuskan berhenti bekerja di sebuah perusahaan swasta di Palopo. Pada 2006 dia memilih hijrah ke Gowa bersama keluarga demi proyek keyakinan itu. “Saya memilih masuk An Nadzir semata untuk menegakkan kebenaran itu,” ujarnya.

Tiadakan Tarawih, Berbuka Setelah Salat Magrib

Jemaah An Nadzir, bahkan mengaku sangat konsisten dalam menjalankan Alquran dan hadis. Jemaah ini tersebar di Makassar, Maros, Palopo, dan Kabupaten Gowa.

Khusus di Gowa, jemaahnya sebanyak 100 kepala keluarga (KK) dengan rata-rata setiap rumah dihuni lima orang. Sehingga, keseluruhan jemaah An Nadzir di daerah ini sekitar 500 orang.

Pada Ramadhan tahun ini, jemaah An Nadzir mengaku melaksanakan ibadah berdasarkan sunah Rasul. Karena itu, mereka tidak melaksanakan salat tarawih seperti kebanyakan umat muslim lainnya.

Shalat tarawih ditiadakan dengan argumen menghindari jemaahnya menjadikannya sebagai sesuatu kewajiban.

“Seperti umumnya umat muslim, kami juga memiliki banyak kegiatan keagamaan di bulan Ramadhan ini. Hanya saja, salat tarawih ditiadakan karena menghindari jadi wajib,” tandas pimpinan An Nadzir Gowa, Ustaz Rangka, saat ditemui di kediamannya yang sederhana di tepi Danau Mawang.

Alasan Rangka tak melaksanakan salat tarawih bersama jemaahnya, lantaran mengikuti Nabi Muhammad Saw. Pada zamannya, kata dia, Rasulullah memang pernah melaksanakan salat tarawih pada malam 23, 25, dan 27.

Setelah itu, Rasulullah berhenti selama-lamanya. “Nah, ketika itu para sahabat nabi bertanya, kenapa berhenti. Lalu, Rasulullah menjawab, itu dilakukan semata karena takut nanti salat tarawih kemudian dijadikan kewajiban.

Kenyataan yang terjadi sekarang ini, seakan-akan tarawih di bulan Ramadan itu menjadi sesuatu yang wajib dilaksanakan. Makanya, kami putuskan tak melaksanakan tarawih sejak hari pertama Ramadan sampai sekarang ini,” jelas Rangka.

Rangka menambahkan, mereka cukup berpuasa saja dan melakukan buka puasa sesuai waktu yang diyakini pada malam hari. Untuk menguatkan pendapatnya itu, Rangka merujuk pada surah Al Baqarah ayat 187.

“Makanya, kami rata-rata salat magrib dulu baru berbuka puasa, yang waktunya pada waktu malam ketika tergelincirnya matahari.

Saya tidak mengacu pada jam berapa atau pukul berapa. Meski begitu, kami juga tak menafikan yang namanya jam itu karena sangat membantu,” paparnya.

Adapun pelaksanaan salat isya, lanjut Rangka, juga mengikuti kebiasaan nabi di mana suatu ketika melakukan salat isya di dua pertiga malam. Ketika itu, dikisahkan Rangka, Aisyah meraba kaki Rasulullah lalu bertanya, “Ya Rasulullah, Engkau melaksanakan salat apa?”

Rasulullah lalu menjawab, ”Sekiranya tidak memberatkan umatku maka inilah waktu (dua pertiga malam, Red) yang paling tepat melaksanakan salat isya.”

“Itu pula yang kami lakukan di sini. Rata-rata melaksanakan salat isya pada pukul 03.00 Wita, karena memang tidaklah memberatkan bagi kami. Selanjutnya melaksanakan sahur sesuai petunjuk yang ada.

Intinya, memperlambat sahur mempercepat buka puasa sesuai perintah Rasulullah. Kami makan dan minum sesuai petunjuk Alquran,” kilah Rangka sembari menyebutkan, di malam hari pada bulan Ramadhan ini ada juga jemaah yang tafakur di alam terbuka.

Soal pelaksanaan salat isya itu, Rangka lalu menyebutkan tercantum pada Surah Huud ayat 114 yang berbunyi ”Dirikanlah salat pada kedua tepi siang (pagi dan petang), dan pada bagian permulaan malam”. Serta Surah Al Israa ayat 78, “Dirikanlah salat sesudah matahari tergelincir (lohor dan asar) sampai gelap malam (magrib dan isya), serta salat subuh. Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan malaikat”.

Dominan Berkebun Aktivitas sehari-hari jemaah An Nadzir adalah berkebun dan menambak ikan. “Di waktu pagi hingga sore hari, kami memang lebih banyak berkebun dan memelihara ikan mas yang ada di tambak atau kolam dekat permukiman,” kata Rangka, yang mengaku sudah 22 tahun menetap di tepi Danau Mawang.

Jemaah An Nadzir sendiri cukup terbuka bagi siapa saja yang ingin mengetahui lebih jauh tentang majelis itu. Tapi, jangan coba-coba untuk menyinggung perasaan jemaahnya.

“Kalau itu dilakukan, maka pasti akan dilempar ke tambak atau kolam ikan yang ada di permukiman jemaah An Nadzir. Sudah banyak yang merasakannya karena mencibir keberadaan An Nadzir,” ungkap Arifin Idris Dg Ngiri, warga di sekitar permukiman An Nadzir. (*/bersambung)

 Paling Cepat Gelar Salat Idulfitri

 

PADA bulan Ramadan ini, jemaah An Nadzir melakukan aktivitasnya di siang hari hingga sore. Mereka menggarap sebuah lahan seluas dua hektare yang disiapkan untuk ditanami cabai kecil mulai awal November mendatang.
Selain itu, mereka juga bercocok tanam padi.

Bahkan, baru-baru ini, jemaah An Nadzir memanen padi yang digarapnya. Satu hektare sawah yang digarap mampu menghasilkan berkarung-karung gabah. “Untuk perkebunan, kami punya lahan sendiri. Sedangkan areal persawahan yang digarap, secara keseluruhan luasnya hampir tujuh hektare. Saat ini, kami memanennya,” jelas Pimpinan An Nadzir Gowa, Ustaz Rangka, saat ditemui Rabu malam lalu, di kediamannya.

Sekadar informasi, Rangka disebut-sebut yang memiliki lahan pertanian itu. Namun, lahannya tersebut diolah bersama-sama dengan para jemaahnya. Nah, hasilnya itu kemudian dibagi bersama jemaahnya untuk kelangsungan hidup mereka.

Rangka mengaku, dia bersama jemaahnya, hanya semata-mata menjalankan sunah Rasul. Mereka juga memilih hidup secara sederhana. “Kami di sini tidak mengembangkan ajaran sesat. Kami justru menegakkan kebenaran yang dibawa Syech Muhammad Al Mahdi Abdullah. Nah, yang mengajari saya dan para jemaah An Nadzir masuk ke lokasi ini (tepi Danau Mawang, red) adalah Al Mahdi Abdullah, imam akhir zaman yang kita tunggu-tunggu selama ini,” ungkapnya.

Rangka menambahkan, ia sebenarnya pernah bergabung dengan Muhammadiyah sebelum memutuskan masuk majelis An Nadzir. “Kebenaran itu akan muncul. Nah, Imam Mahdi sendiri juga akan muncul di belahan timur,” katanya.

Menyinggung tentang belahan timur, kata dia, Kabupaten Gowa berada persis di belahan timur.

Atas dasar itu, Rangka mengaku memilih sebuah lokasi terpencil di Gowa untuk memulai perjalanan menegakkan kebenaran itu.

Secara tegas, Rangka berkali-kali mengatakan bahwa ia dan jemaahnya tak mengembangkan ajaran sesat. Mereka, kata Rangka, hanya menjalankan ajaran yang dibawa Syech Muhammad Al Mahdi Abdullah, yang dijadikan imamnya.
“Untuk apa saya meninggalkan keramaian di luar sana dan masuk ke tempat terpencil kalau hanya mengembangkan ajaran sesat. Sekalipun beberapa rekan saya di Muhammadiyah menghujat dan mencibir saya, tapi saya hanya tersenyum,” akunya.

Perlu diluruskan, lanjutnya, An Nadzir bukanlah komunitas atau aliran, bukan pula Syiah atau Sunni. “Kami adalah Ahlul Bait. Ahlul Bait di sini berarti menjalankan Alquran dan hadis secara konsisten. Sudah jelas, An Nadzir itu sebuah majelis (perjalanan),” paparnya.

 

 

Din Syamsuddin: Sunni-Syiah Harus Bersatu Lawan Kemiskinan

  Print E-mail
Sumber : Harian Detikcom (Senin, 05 Mei 2008)
Penulis: Arfi Bambani Amri

Jakarta - Sunni dan Syiah, menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, berpegang pada dasar agama (akidah) yang sama. Sewajarnya jika dua kekuatan besar Islam ini bersatu melawan dua musuh utama umat saat ini, kemiskinan dan keterbelakangan. 

Demikian disampaikan Din dalam Konferensi Persatuan Islam Sedunia di Teheran, Iran, yang dilansir ulang dalam siaran pers PP Muhammadiyah yang diterima redaksi detikcom, Senin (5/5/2008).

    Din Syamsuddin menegaskan bahwa persatuan umat Islam khususnya antara kaum Sunni dan kaum Syiah, adalah mutlak sebagai prasyarat kejayaan Islam. Kejayaan umat Islam pada abad-abad pertengahan juga didukung persatuan dan peran serta kedua kelompok umat Islam tersebut.

    Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh Islam dalam konferensi yang berlangsung dari 4-6 Mei 2008 itu menyebut antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tapi hanya pada wilayah cabang (furu’yat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiyah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib.

    Maka, lanjut Din Syamsuddin di hadapan 400-an ulama dan zuama Sunni dan Syiah dari seluruh dunia itu, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu maka perlu dikembangkan tasamuh atau toleransi.

    Seluruh elemen umat Islam dalam kemajemukannya perlu menemukan ‘kalimat sama’ (kalimatun sawa) dalam merealisasikan misi kekhalifahan di muka bumi. Selanjutnya, dalam menghadapi tantangan terhadap umat Islam dewasa ini, Din sampaikan, umat Islam perlu menemukan dalam dirinya ‘musuh bersama’ (aduwwun sawa).

    Dua hal ini, ‘kalimatun sawa’ dan ‘aduwwun sawa’ adalah faktor kemajuan umat. Namun perlu dipahami bahwa ‘musuh bersama’ itu terdapat di dalam diri umat Islam yaitu kemiskinan dan keterbelakangan.

 

Usaha Wahabi Rusak Dialog Antar Umat Beragama

Thursday, 03 July 2008
Ulama Syiah Saudi Arabia kemarin lusa memprotes keras ulah ulama wahabi yang mengatakan mazhab Syiah adalah kafir. Dikatakan, pernyataan ruhani wahabi ini adalah ungkapan perang urat syaraf dengan muslimin.
Situs berita press tv berbahasa persia melaporkan, sekitar 22 orang dari ulama dan pengikut wahabi sekitar dua bulan lalu mengatakan bahwa mazhab syiah adalah mazhab yang berlandaskan pada kekafiran. Dan pernyataan tidak berdasar ini menyebabkan marahnya pengikut Syiah. Sementara itu, ulama Ahli Sunnah dan ulama Syiah Saudi Arabia mengadakan dialog untuk menenangkan suasana.
 
Sekitar 85 orang dari ulama Syiah dalam mensikapi perkataan ulama “SYUK” wahabi menjelaskan, penentangan tidak berdasar atas landasan dasar akidah Syiah disebabkan kepicikan bernalar sehingga pendapat tidak berdasar dan tidak adil itu keluar, lebih dari itu semua disebabkan oleh hawa nafsu dan angkara murka.
 
Lebih lanjut ulama Syiah mengatakan bahwa wahabilah yang menyebabkan pertumpahan darah di Saudi Arabia dan di seluruh dunia Islam tandasnya.
 
Ulama Syiah juga mengatakan, mereka yang mengeluarkan pernyataan dan mengeluarkan fatwa bahwa Syiah adalah kafir segera mengubah sikapnya dan kembali mempelajari sejarah perkambangan Syiah.
 
Para pengamat yakin pernyataan pengkafiran mazhab Islam sengaja dikeluarkan oleh lembaga Penjaga Agama kerajaan Saudi dalam rangka menghantam dan menghancurkan dialog antar umat beragama yang diprakarsai langsung oleh raja Abdullah yang mengajak kepada muslimin, yahudi, dan kristen untuk berdialog.[im/mt] presss tv

 

 

Lihat Fatwa menyesatkan mereka

 

 

علماء الوهابية في بيان جديد لإشعال الفتنة المذهبية

وجـوه الـتـكـفـيـر!

بسم الله الرحمن الرحيم

المفتي: لم يوقع ولكنه مؤيد!

الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده وعلى آله وصحبه أجمعين…

أما بعد، فهذا بيان بحقيقة الشيعة(الرافضة) فإنها الطائفة التي نبتت في جسم الأمة الإسلامية منذ عهود متطاولة بفعل بعض اليهود، وقد قام مذهبهم أولاً على أصلين:

1) الغلو في علي بن أبي طالب رضي الله عنه وذريته من فاطمة رضي الله عنهم.

2) بغض جميع الصحابة إلا قليلاً منهم وهم في هذا الغلو وفي هذا البغض متفاوتون، فمنهم من يؤلّه علياً رضي الله عنه، وسلف هؤلاء السبئية الذين حرّقهم علي رضي الله عنه بالنار ومنهم القائلون بعصمة علي رضي الله عنه، والأئمة من بعده.

ثم منهم من يكفّر جمهور الصحابة رضي الله عنهم، ويزعم أنهم ارتدوا بعد النبي صلى الله عليه وسلم ومنهم من يفسقهم ويقول إنهم ظلموا بمبايعة أبي بكر رضي الله عنه بالخلافة لأنهم يزعمون أن علياً رضي الله عنه هو الوصي بولاية الأمر بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأن الصحابة رضي الله عنهم كتموا الوصية واغتصبوا علياً رضي الله عنه وأهل البيت حقهم في الأمر، وهؤلاء كلهم يتدينون بسب الصحابة رضوان الله عليهم خصوصاً أبا بكر وعمر رضي الله عنهما، وقد كانت بداية هؤلاء في عهد علي رضي الله عنه، ولهذا صح عنه رضي الله عنه أنه قال: (لا أوتى بمن يفضلني على أبي بكر وعمر إلا جلدته حد المفتري).

التكفيري إبن جبرين

ومن أصولهم ما يُعرف عندهم بالتقيّة؛ الذي حقيقته النفاق بإخفاء باطلهم، فيظهرون خلاف ما يبطنون.

وشرُّ طوائفهم الباطنية كالإسماعيلية والنصيرية، وكانوا يعرفون قديماً بالقرامطة، وكان من زعمائهم أبو سعيد الجنّابي في بلد القطيف وهو الذي عاث هو وحزبه في الأرض فساداً، وكانوا يقطعون الطريق على الحجاج بالقتل والنهب. وجاءوا إلى مكة سنة /317هـ/ فقتلوا الحجيج ورموهم في بئر زمزم، وقلعوا باب الكعبة وقلعوا الحجر الأسود، وحملوه إلى بلدهم القطيف وبقي عندهم ثنتين وعشرين سنة.

ومنهم دولة الفاطميين بمصر الذين قال فيهم بعض أهل العلم إنهم يظهرون الرفض ويبطنون الكفر المحض.

والشيعة الروافض هم الذين أحدثوا في الأمة شرك القبور فبنوا على قبور أئمتهم القباب والمعابد التي يسمونها المشاهد وعمروها بأنواع الشرك والبدع فهم يطوفون بتلك القبور ويصلّون عندها ويحجون إليها ويستغيثون بأصحابها من قرب وبعد، ولا سيما في الشدائد، فكان شركهم أغلظ من شرك الذين قال الله فيهم: (فإذا ركبوا في الفلك دعوا الله ملخصين له الدين فلما نجاهم إلى البر إذا هم يشركون).

التكفيري البراك

فالرافضة يشركون في الرخاء والشدة، وقد سرى داء القبورية منهم إلى طوائف من الصوفية.

ومن خرافات الشيعة الرافضة إعتقادهم أن الإمام الثاني عشر عندهم وهو محمد بن الحسن العسكري الذي يزعمون أنه دخل سرداب سامراء وهو إبن خمس أو ست سنين، وذلك سنة 256هـ وأنه لم يزل حياً، وهم ينتظرون خروجه، ويدعون بذلك فإذا ذكروه قالوا عجل الله فرجه وهو المعروف عندهم بالإمام المنتظر، والمهدي المنتظر.

فهذه أصول مذهب الرافضة مع ما دخل عليهم من أصول الخوارج والمعتزلة.

وبهذا يتبين أن طائفة الشيعة الرافضة شر طوائف الأمة وأشدهم عداوة وكيداً لأهل السنة والجماعة.

ولذلك يتدينون بلعن جميع أهل السنة الأولين والآخرين.

ولا يقرون بشرعية خلافة أحد من خلفاء وملوك المسلمين من عهد أبي بكر رضي الله عنه إلى اليوم عدا علياً رضي الله عنه فعندهم لم تكن للإسلام دولة بعد الرسول إلا ما كان من خلافة علي رضي الله عنه.

التكفيري ناصر العمر

ولهذا لم يزل الإسلام والمسلمون منهم في محنة يكيدون لهم بأنواع المكايد مما به فساد دينهم ودنياهم ويناصرون أعداء المسلمين عليهم كلما سنحت لهم الفرصة وإذا كانت لهم دولة أذلوا وتسلطوا على من في ولايتهم من أهل السنة كما عليه الحال في إيران والعراق. وهم يثيرون الفتن وأنواع من الفساد والدمار بالمسلمين وزعزعة الأمن في بلاد المسلمين كما حصل في بعض مواسم الحج في مكة وفي اليمن من الحوثيين.

ومع هذا فكثير من المسلمين من المتعلمين والمثقفين فضلاً عن العامة قد انخدعوا وينخدعون بمزاعم الرافضة في نصرة الدين وعداوة اليهود والأمريكيين كما حصل من الانخداع بمزاعم من يسمى بحزب الله في لبنان. ولا ريب أن الذين يصدقونهم في مزاعمهم لم يدركوا حقيقة مذهبهم وما بني عليه من أصول كفرية كما تقدم بيانه.

ومن العجب أن مع هذا الانفتاح والتمكن من الإطلاع على مؤلفاتهم وتصريحاتهم لم يزل كثيرون غير متصورين لعداوة الرافضة لأهل السنة عموماً ولأهل السنة والجماعة خصوصاً ولهذا هم أعدى الأعداء لدعوات الإصلاح السلفية التي تقوم على منهج السلف الصالح من الصحابة والتابعين فاعرفوهم واحذروهم أيها المسلمون.

التكفيري محمد الهبدان

نسأل الله أن يجعل لنا فرقاناً بين الحق والباطل وبين أوليائه وأعدائه وأن يرينا الحق حقاً ويرزقنا اتباعه، ويرينا الباطل باطلاً ويرزقنا اجتنابه، وأن لا يجعله ملتبساً علينا فنضل إنه المان بذلك والقادر عليه. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

الموقعون

1ـ الشيخ العلامة/ عبد الله بن عبد الرحمن الجبرين
2 ـ الشيخ العلامة/ عبد الرحمن بن ناصر البراك
3 ـ د. الشيخ/ عبد الله بن حمود التويجري
4 ـ د. الشيخ/ عبد الله بن حمد الجلالي
5 ـ الشيخ/ عبد الله بن ناصر السليمان
6 ـ د. الشيخ/ ناصر بن سليمان العمر
7 ـ د. الشيخ/ عبد الله بن عمر الدميجي
8 ـ د. الشيخ/ سليمان بن عبد الله السيف
9 ـ د. الشيخ/ عبدالعزيز بن عبد الله المبدل
10 ـ د. الشيخ/ محمد بن عبد العزيز اللاحم
11 ـ د. الشيخ/ إبراهيم بن محمد عباس
12 ـ د. الشيخ/ عبد الله بن إبراهيم الريس
13 ـ د. الشيخ/ محمد بن عبدالله الهبدان
14 ـ د. الشيخ/ عبد العزيز بن محمد الراشد
15 ـ الشيخ/ فهد بن سليمان القاضي
16 ـ الشيخ/ عبد العزيز بن ناصر الجليل
17 ـ الشيخ/ عبد الله بن عبد الرحمن الوطبان
18 ـ الشيخ/ سعد بن ناصر الغنام
19 ـ الشيخ/ أحمد بن حسن بن محمد آل بن عبد الله
20 ـ الشيخ/ العباس بن أحمد عبد الفتاح الحازمي
21 ـ الشيخ/ عيسى بن درزي المبلع
22 ـ الشيخ/ عبد العزيز بن سالم العمر

Muthahhari, Guru Besar Muslimin Era Modern

Dewasa ini, berbagai negara dunia menggalakkan pembahasan masalah reformasi pemikiran dan sosial. Dalam hal ini Islam senantiasa menyerukan reformasi dan pembenahan dan selalu mendorong masyarakat untuk membenahi kondisi yang ada. Terkadang sebuah masyarakat menjalani rutinitas mereka selama puluhan dekade bahkan ratusan tahun tanpa ada perkembangan apapun. Perlahan-lahan masyarakat itu mengalami proses degradasi dan kejumudan. Saat itulah, harus muncul seorang figur yang mampu menyadarkan dan mendorong masyarkat tersebut untuk bergerak maju. Pembenahan itu dapat dilakukan di berbagai bidang, dan pada era kini salah seorang figur reformis pemikiran agama adalah Syahid Ayatullah Murtadha Mutahhari.

Seorang peneliti dan dosen universitas Iran, Doktor Hasan Azghadi mengatakan, “Berjihad dan pengorbanan tidak dilakukan hanya di sektor politik dan sosial saja. Ada saatnya saat melakukan penelitian ilmiah yang menggunakan pilar-pilar pemikiran, seseorang harus bersikap berani. Di satu sisi, ia harus berdiri tegak menghadapi berbagai pemikiran menyimpang di kalangan internal ummat Islam. Di sisi lain, ia juga harus melawan serbuan pemikiran dari luar yang menyatakan bahwa agama bukanlah hal yang penting dalam kehidupan manusia.

“Dalam sejarah, kita akan mendapati bahwa orang yang mampu melakukan perjuangan melawan dua kekuatan pemikiran itu bisa dikatakan sangat sedikit. Di antara pemikir yang sedikit itu adalah Syahid Muthahhari. Beberapa dekade lamanya, Muthahhari muncul sebagai pemikir Islam yang mampu membela agama Islam dari serbuan pemikiran luar ataupun penyimpangan internal. Ia mengemukakan pemikiran Islam yang hakiki dengan bahas yang bernas, cerdas, dan menarik. Muthahhari adalah penjaga benteng pemikiran Islam yang kokoh di akhir abad 20. Pejuang pemikiran Islam itupun pada akhirnya mempersembahkan nyawanya di jalan agama dan gugur sebagai syahid.”

Kalau kita mengamati pemikiran-pemikiran Syahid Muthahhari, kita akan mendapati fakta bahwa sebagian sebagian besar aktivitas ilmiahnya dicurahkan untuk mengungkap penyimpangan pemikiran Islam yang ada di tengah-tengah masyarakat, sekaligus memberikan bantahannya. Muthahhari juga memberikan penjelasan atas berbagai hal yang masih sering dianggap bias dalam ajaran Islam. Sebagai contoh, Muthahhari menulis tiga jilid buku berjudul “Perjuangan Huseini”. Di buku itu, Muthahhari secara detail menuliskan faktor-faktor yang membuat pejuangan Imam Husein di Padang Karbala menjadi begitu abadi. Ia juga menjelaskan hal-hal yang sering dipertanyakan oleh sejumlah kalangan terkait peristiwa tersebut. Syahid Muthahhari di buku itu juga menjelaskan pentingnya tugas muslimin dalam mengantisipasi aksi distorsi dan perusakan agama dan sosial.

Syahid Muthahhari menilai Islam sebagai agama yang dapat menjawab seluruh tuntutan pada zamannya. Di antara karya komprehensif beliau adalah buku berjudul “Islam dan Tuntutan Zaman”. Beliau berpendapat bahwa umat manusia memiliki ketergantungan terhadap unsur-unsur materi dan maknawi. Cara untuk memnuhi tuntutan tersebut pun sangat beragam dan berbeda-beda pada setiap zaman. Sebab itu, manusia harus menyesuaikan dirinya dengan tuntutan zamannya. Menurut Muthahhari, tuntutan tersebut tidak dapat dielakkan atau dicegah. Namun pada saat yang sama, tidak seluruh fenomena tersebut adalah pilihan terbaik bagi kehidupan manusia. Karena, fenomena tersebut adalah karya manusia yang tidak terjaga dari kesalahan. Oleh sebab itu, setiap individu dituntut untuk dapat menyesuaikan tuntannya serta mengontrol dan membenahinya.” Artinya, umat manusia harus dapat menyesuaikan diri dengan kondisi zamannya seperti memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Namun pada saat yang sama mereka juga harus tetap menjaga diri dari dampak negatif yang muncul dari arus kemajuan teknologi.

Menurut Muthahhari, ajaran Islam adalah yang paling komprehensif, sempurna, dan terus hidup sepanjang zaman. Ajaran Islam juga dapat disesuaikan dengan tuntutan pada zamannya. Masalah inilah yang ditekankan beliau dalam bukunya berjudul ‘Matahari Agama, Tidak Akan Pernah Terbenam’. Ditegaskannya bahwa, fenomena sosial dapat dikokohkan jika disesuaikan dengan tuntutan masyarakatnya. Artinya, fenomena tersebut harus muncul dari dalam hati dan fitrah setiap manusia dan harus sesuai dengan tuntutannya.

Menyikapi perluasan pemikiran Barat yang menyerang dan menistakan kedudukan perempuan dalam Islam, Syahid Muthahhari menulis buku tentang hak-hak perempuan dan masalah Hijab. Dalam buku itu, Muthahhari mengemukakan berbagai argumentasi yang kuat dan bahkan balik mengkritik pendapat Barat mengenai hak perempuan dalam Islam. Beliau menepis pendapat Barat bahwa Islam telah menistakan hak perempuan. Dikatakannya, bahwa Islam menjunjung tinggi kedudukan perempuan. Dalam AlQuran disebutkan berbagai ayat yang menyebutkan bahwa takdir dan nasib perempuan dan laki-laki tidak dibedakan. Misalnya dalam masalah pahala dan azab, tidak ada perbedaan bagi kaum perempuan dan laki-laki. AlQuran bahkan menyebutkan keutamaan para wanita suci seperti istri nabi Adam dan Ibrahim, serta ibu nabi Musa dan Isa.

Salah satu pemikiran menarik Syahid Muthahhari adalah masalah pembedaan antara adat dan etika. Menurutnya, nilai-nilai etika akan kekal sepanjang masa. Karena etika seperti keadilan, kejujuran, menepati janji, cinta, dan lain-lainnya, sangat erat kaitannya dengan tuntutan dan kecenderungan manusia. Adapun adat sosial selalu mengalami perubahan. Sebab itu, Muthahhari menentang pihak yang berpendapat bahwa sejumlah adat harus tetap dijaga dan dilestarikan, karena menurut beliau, adat tersebut bisa jadi tidak sesuai dengan kondisi dan tuntutan zaman. Hal ini menurutnya akan menyebabkan kejumudan dan kemunduran.

Mengapa Kisah kisah Al-Quran

Sejumlah ayat-ayat al-Quran telah memaparkan kisah dan cerita para nabi serta periode kehidupan mereka. Karena di balik kisah-kisah tersebut tersimpan pelajaran-pelajaran berharga dan kisah-kisah tersebut—pada hakikatnya—adalah harta simpanan yang memiliki banyak rahasia dan misteri, ayat-ayat tersebut telah mendapatkan perhatian dari para sejarawan, penulis buku sejarah dan kisah-kisah para nabi as dan para peneliti kajian agama secara istimewa. Setiap dari mereka telah mengambil pengetahuan sesuai dengan kemampuan masing-masing dari mata air segar itu.

Sebelum kami memaparkan kisah-kisah para nabi as dengan berlandaskan al-Quran, perlu kiranya kami kemukakan terlebih dahulu satu mukadimah penting yang dapat kita jadikan acuan dalam menelaah kisah-kisah para nabi as di dalam al-Quran.

Mukadimah ini akan memaparkan pembahasan-pembahasan berikut ini:

Pertama, titik perbedaan antara kisah-kisah al-Quran dan kisah-kisah lain.

Kedua, tujuan kisah-kisah al-Quran.

Ketiga, faktor pengulangan dalam kisah-kisah al-Quran.

Perbedaan antara Kisah-kisah Al-Quran dan Kisah-kisah Lain

 

Secara mendasar, kisah-kisah al-Quran sangat berbeda dengan kisah-kisah lainnya dari berbagai segi dan sisi. Akan tetapi, dapat dikatakan bahwa titik pembeda paling urgen antara kedua jenis kisah itu adalah tujuan yang hendak digapainya. Pada hakikatnya, tujuan itulah yang menjadi pembeda utama antara kedua jenis kisah itu.

Setiap orang yang ingin menceritakan atau menulis sebuah cerita, ia pasti memiliki sebuah tujuan yang ingin dicapainya. Sebagian orang sangat meminati seni cerita karena unsur seninya belaka. Dengan kata lain, ia menekuni bidang seni ini supaya bakat seninya bertambah maju dan berkembang pesat. Sebagian yang lain menekuni bidang seni ini dengan tujuan hanya ingin mengisi kekosongan waktunya. Dan kelompok ketiga menelusuri kehidupan seni hanya ingin mengetahui dan menukil biografi dan sejarah generasi yang telah lalu.

Ringkasnya, setiap orang menekuni seni cerita ini atas dasar faktor dan dorongan tertentu, serta ingin menggapai tujuan yang diinginkannya. Hal itu dikarenakan seni cerita memiliki daya tarik khusus yang tidak dimiliki oleh seni-seni lainnya.

Al-Quran pun tidak luput dari kaidah di atas. Ia pun memiliki tujuan tertentu dalam kisah-kisah yang dipaparkannya. Yang pasti, tujuannya di balik pemaparan kisah-kisah itu tidak terlepas dari tujuan universalnya. Yaitu, hidayah dan memberikan petunjuk kepada umat manusia, mendidik mereka secara benar dalam setiap sisi kehidupan, mengadakan reformasi sosial secara mendasar, dan—akhirnya—menciptakan individu dan masyarakat yang saleh, berkepribadian Ilahi, dan beriman.

Tujuan Kisah-kisah Al-Quran

 

Jika kita menelaah kisah-kisah al-Quran dengan seksama, kita akan memahami bahwa dengan perantara kisah-kisah itu Allah ingin menyampaikan poin-poin penting yang dikemas dalam bentuk cerita dan kisah. Di antara tujuan-tujuan itu adalah sebagai berikut ini:

a. Membuktikan kewahyuan al-Quran dan kebenaran missi Nabi SAWW; semua yang diembannya adalah wahyu yang turun dari Allah demi membimbing umat manusia ke jalan yang lurus. Dengan memperhatikan kecermatan dan kejujuran al-Quran dalam menukil kisah-kisah itu, kewahyuannya akan dapat dibuktikan. Al-Quran sendiri telah mengisyaratkan hal ini ketika ia menukil kisah-kisah para nabi, baik di permulaan maupun di akhir kisah.

Ia berfirman,

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآنَ وَ إِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِيْنَ

“Kami akan menceritakan kepadamu cerita terbaik dengan apa yang telah Kami wahyukan al-Quran ini kepadamu meskipun sebelumnya engkau termasuk di antara orang-orang yang lupa (baca : tidak mengenal kisah itu)”. (Q.S. Yusuf [12] : 3)

Setelah menukil kisah Nabi Hud as, Ia berfirman,

تِلْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوْحِيْهَا إِلَيْكَ مَا كُنْتَ تَعْلَمُهَا أَنْتَ وَ لاَ قَوْمُكَ مِنْ قَبْلِ هَذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِيْنَ

“Itu semua termasuk dari berita-berita ghaib (yang) Kami wahyukan kepadamu. Sebelum ini, engkau dan kaummu tidak mengetahuinya. Maka, bersabarlah! Karena masa depan berada di tangan orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Hûd [11] : 49)

b. Membuktikan kesatuan agama dan akidah seluruh nabi as. Karena mereka semua datang dari Allah, pondasi dakwah mereka adalah satu dan mereka mengajak umat manusia kepada satu tujuan. Dengan mengingatkan kembali tujuan yang satu ini, di samping ingin menegaskan kesatuan akar dakwah seluruh agama dan umat manusia, al-Quran juga ingin menekankan bahwa pondasi dakwah para nabi as tidak berbeda antara satu dengan lainnya.

Tujuan ini telah sering diisyaratkan dalam beberapa ayat al-Quran. Realita ini dapat kita telaah dalam surah al-A’râf [7] : 59, 65, 73, dan 85.

Sebagai contoh, Allah berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوْحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنِّيْ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ

“Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu, ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tiada Tuhan bagi kalian selain-Nya. Sesungguhnya aku takut azab yang besar terhadap kalian”. (Q.S. Al-A’râf [7] : 59)

Menyembah Allah adalah satu tujuan yang diproklamirkan oleh seluruh nabi dan rasul as.

c. Menjelaskan kesatuan metode dan sarana para nabi as dalam berdakwah, kesatuan sikap mereka dalam menghadapi masyarakat, bagaimana sikap masyarakat dalam menanggapi ajakan mereka, dan kesamaan adat-istiadat yang berlaku di dalam masyarakat ketika mereka mulai berdakwah.

Realita ini dapat kita telaah bersama dalam surah Hûd [11] : 25, 27, 50, dan 61.

d. Menceritakan pertolongan-pertolongan Ilahi terhadap para nabi as dan menekankan realita bahwa peperangan ideologi itu pasti berakhir dengan kemenangan di pihak para penolong Allah. Dengan demikian, para nabi as akan semakin tegar dalam menjalankan missi mereka, dan para pengikut mereka akan lebih bersemangat untuk mengemban missi tersebut.

Realita ini dapat kita renungkan bersama dalam surah al-‘Ankabût [29] : 14-16, 28, 34, 37, 38, 39, dan 40.

e. Membenarkan kabar-kabar gembira dan peringatan-peringatan Ilahi secara nyata dengan memberikan contoh-contoh nyata tentang hal itu. Semua itu adalah suatu implementasi dari rahmat Ilahi bagi orang-orang yang taat dan azab Ilahi bagi para pembangkang.

f. Menjelaskan rahmat dan nikmat Ilahi yang telah dicurahkan atas para nabi as sebagai hasil kedekatan hubungan mereka dengan Allah. Sebagai contoh, hal ini dapat kita temukan dalam kisah Nabi Sulaiman, Daud, Ibrahim, Isa, Zakaria, dan lain-lain.

g. Mengemukakan permusuhan kuno setan terhadap umat manusia di mana ia selalu menanti kesempatan untuk menyesatkannya. Kisah Nabi Adam as adalah sebuah contoh riil untuk hal ini.

Faktor Pengulangan Kisah-kisah Al-Quran

 

Salah satu pembahasan penting yang mungkin sering kita pertanyakan setiap kali kita menelaah kisah-kisah al-Quran adalah mengapa sebagian kisah al-Quran diulangi dalam surah yang lain?

Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu kita perhatikan dua poin berikut ini:

a. Tujuan yang berbeda menuntut pengulangan kisah. Setiap kisah yang disebutkan dalam sebuah surah al-Quran tentunya demi menggapai sebuah tujuan tertentu. Karena terdapat tujuan lain yang berbeda dengan tujuan tersebut, hal itu menuntut supaya kisah itu diulangi lagi di surah lain demi menggapai tujuan yang lain pula. Oleh karena itu, jika satu tujuan telah menjadi faktor untuk sebuah kisah supaya disebutkan pada sebuah surah, faktor lain yang berbeda dapat menjadi faktor tersendiri untuk kisah itu supaya disebutkan lagi di surah yang lain.

b. Karena dakwah Islam melalui periode yang berjenjang dan berbeda-beda, dan al-Quran juga turun sesuai dengan tuntutan setiap periode dakwah itu, secara logis kisah yang terdapat di dalamnya sesuai dengan tujuan yang ingin digapai dalam setiap periode dakwah itu akan mengalami pengulangan dalam beberapa surah.

Harapan kami, semoga rubrik ini dapat bermanfaat bagi kita dalam mengemban risalah Ilahiah yang suci ini dan kisah-kisah para nabi as ini dapat menjadi figur teladan dalam kita mengemban missi Ilahi. Amin!

MASYARAKAT

Oleh: Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

Masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu –kecil atau besar– yang terikat oleh satuan, adat, ritus atau hukum khas, dan  hidup  bersama.  Demikian   satu   dari   sekian banyak definisinya. Ada beberapa kata yang digunakan Al-Quran untuk menunjuk kepada masyarakat atau kumpulan manusia. Antara lain: qawm, ummah, syu’ûb, dan qabâ`il. Di samping itu, Al-Quran juga memperkenalkan masyarakat dengan sifat-sifat tertentu, seperti al-mala’, al-mustakbirun, al-mustadh’afun, dan lain-lain.

Walaupun Al-Quran bukan kitab ilmiah –dalam pengertian umum– namun  Kitab  Suci  ini banyak sekali berbicara tentang masyarakat. Ini disebabkan karena fungsi utama Kitab Suci ini adalah mendorong lahirnya perubahan-perubahan positif dalam masyarakat,  atau  dalam istilah Al-Quran: litukhrijan-nâs minazh-zhulumâti ilan nûr (mengeluarkan  manusia  dari  gelap gulita  menuju  cahaya  terang  benderang). Dengan alasan yang sama,  dapat  dipahami  mengapa  Kitab  Suci  umat  Islam  ini memperkenalkan sekian banyak hukum-hukum yang berkaitan dengan bangun runtuhnya suatu  masyarakat.  Bahkan  tidak  berlebihan jika  dikatakan  bahwa  Al-Quran  merupakan  buku pertama yang memperkenalkan hukum-hukum kemasyarakatan.

Manusia adalah “makhluk sosial”. Ayat kedua dari wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw., dapat dipahami sebagai salah satu ayat yang menjelaskan hal tersebut.  Khalaqal  insân min ‘alaq bukan saja diartikan sebagai “menciptakan manusia dari segumpal  darah”  atau  “sesuatu  yang  berdempet  di  dinding rahim”, tetapi juga dapat dipahami sebagai “diciptakan dinding dalam keadaan selalu bergantung kepada pihak lain  atau  tidak dapat hidup sendiri.” Ayat lain dalam konteks ini adalah surat Al-Hujurat  ayat  13.  Dalam  ayat   tersebut   secara   tegas dinyatakan  bahwa  manusia  diciptakan terdiri dari lelaki dan perempuan,  bersuku-suku  dan  berbangsa-bangsa,  agar  mereka saling   mengenal.  Dengan  demikian  dapat  dikatakan  bahwa, menurut Al-Quran, manusia secara fitri adalah  makhluk  sosial dan   hidup  bermasyarakat  merupakan  satu  keniscayaan  bagi mereka.

Tingkat  kecerdasan,  kemampuan,  dan  status  sosial  manusia menurut Al-Quran berbeda-beda: Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami yang membagi antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia ini. Dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa tingkat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain, dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan (0S Al-Zukhruf [43]: 32).

Seperti  terbaca   di   atas,   perbedaan-perbedaan   tersebut bertujuan  agar  mereka  saling  memanfaatkan (sebagian mereka dapat memperoleh manfaat dari  sebagian  yang  lain)  sehingga dengan   demikian   semua  saling  membutuhkan  dan  cenderung berhubungan dengan yang lain. Ayat ini, di samping  menekankan kehidupan   bersama,   juga   sekali   lagi  menekankan  bahwa bermasyarakat adalah sesuatu yang lahir  dari  naluri  alamiah masing-masing manusia.

CIRI KHAS SETIAP MASYARAKAT 

 Setiap masyarakat mempunyai ciri khas dan pandangan hidupnya. Mereka  melangkah  berdasarkan kesadaran tentang hal tersebut. Inilah yang melahirkan watak  dan  kepribadiannya  yang  khas. Dalam hal ini, Al-Quran menyatakan:

Demikianlah, Kami jadikan indah (di mata) setiap masyarakat perbuatan mereka (QS A1-An’am [6]: 108).

Suasana kemasyarakatan  dengan  sistem  nilai  yang  dianutnya mempengaruhi  sikap  dan  cara  pandang  masyarakat  itu. Jika sistem nilai atau pandangan mereka terbatas pada “kini dan di sini”  maka upaya dan ambisinya menjadi terbatas pada kini dan di sini pula. Allah menjanjikan masyarakat ini –bila memenuhi sunnatullah–   akan   mencapai  sukses,  tetapi  sukses  yang terbatas pada “kini dan di sini” dan setelah itu, mereka  akan jenuh, mandek, akibat rutinitas, kemudian menemui ajalnya. Ini dikemukakan Al-Quran dalam surat Al-Isra’ ayat 18.

Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) maka Kami segerakan baginya sekarang (di dunia) ini, apa yang Kami kehendaki bagi yang Kami kehendaki, kemudian Kami tentukan baginya neraka Jahannam. Ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

Al-Quran menekankan  kebersamaan  anggota  masyarakat  seperti gagasan  sejarah  bersama,  tujuan  bersama, catatan perbuatan bersama, bahkan kebangkitan, dan kematian bersama.  Dari  sini lahir gagasan amar ma’ruf dan nahi munkar, serta konsep fardhu kifayah dalam arti semua anggota masyarakat memikul dosa  bila sebagian mereka tidak melaksanakan kewajiban tertentu.

Meskipun  Al-Quran  menisbahkan watak, kepribadian, kesadaran, kehidupan dan kematian kepada masyarakat, namun Al-Quran tetap mengakui peranan individu, agar setiap orang bertanggung jawab atas  diri  dan  masyarakatnya.  Banyak   sekali   kisah-kisah Al-Quran  yang  menguraikan  penampilan  satu  individu  untuk membangun   masyarakatnya atau menentang kebejatannya. Keberhasilan  mereka pun berdasarkan satu hukum kemasyarakatan yang pasti.

HUKUM-HUKUM KEMASYARAKATAN 

Al-Quran sarat dengan uraian tentang hukum-hukum yang mengatur lahir,  tumbuh,  dan  runtuhnya  suatu masyarakat. Sebagian di antaranya telah disinggung di  atas.  Hukum-hukum  itu  –dari segi  kepastiannya–  tidak  berbeda  dengan hukum-hukum alam. Hukum-hukum itu dinamai oleh Al-Quran sunnatullah, dan berulang kali dinyatakannya:

Engkau tidak akan mendapatkan perubahan terhadap sunnatullah (QS Al-Ahzab [33]: 62).

Salah satu hukum kemasyarakatan yang amat  populer  –walaupun sering  diterjemahkan  dan  dipahami  secara  keliru–  adalah firman Allah yang berbicara tentang hukum perubahan:  

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadaan) satu kaum (masyarakat), sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental) mereka (QS Ar-Ra’d [13]: 11).

Dalam buku penulis, “Membumikan” Al-Quran, dikemukakan bahwa:  

Ayat ini berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua pelaku. Pertama, perubahan masyarakat yang pelakunya adalah Allah, dan kedua perubahan keadaan diri manusia (sikap mental) yang pelakunya adalah manusia. Perubahan yang dilakukan Tuhan terjadi secara pasti melalui hukum-hukum masyarakat yang ditetapkan-Nya. Hukum-hukum tersebut tidak memilih kasih atau membedakan antara satu masyarakat/kelompok dengan masyarakat/kelompok lain …

Mâ bi anfusihim yang diterjemahkan dengan “apa  yang  terdapat dalam  diri  mereka”,  terdiri  dari  dua  unsur  pokok, yaitu nilai-nilai  yang  dihayati  dan  iradah  (kehendak)  manusia. Perpaduan   keduanya   menciptakan   kekuatan  pendorong  guna melakukan sesuatu.

Ayat di atas berbicara tentang manusia dalam keutuhannya,  dan dalam  kedudukannya  sebagai  kelompok,  bukan  sebagai  wujud individual. Dipahami demikian, karena pengganti nama pada kata anfusihim    (diri-diri    mereka)    tertuju    kepada   qawm (kelompok/masyarakat). Ini berarti bahwa seseorang,  betapapun hebatnya,  tidak dapat melakukan perubahan, kecuali setelah ia mampu mengalirkan arus perubahan kepada sekian  banyak  orang, yang  pada  gilirannya  menghasilkan  gelombang,  atau  paling sedikit riak-riak perubahan dalam masyarakat.

Pentingnya keterkaitan antara pribadi dan masyarakat, serta besarnya perhatian Al-Quran terhadap lahirnya perubahan-perubahan positif, mengantar kepada berulangnya ayat-ayatnya  yang  menekankan  tanggung  jawab perorangan dan tanggung jawab kolektif.

Tidak ada satu makhluk (berakal) pun di langit dan di bumi kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai hamba. Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan gang teliti. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri (QS Maryam [19]: 93-95).

Ayat di atas adalah  satu  dari  sekian  ayat  yang  berbicara tentang  tanggungjawab pribadi. Namun di samping itu, terdapat sekian ayat yang berbicara tentang  tanggung  jawab  kolektif, seperti dalam surat Al-Jatsiyah (45): 28,

(Di hari kemudian) kamu akan melihat setiap umat/masyarakat bertekuk lutut, setiap masyarakat diajak untuk membaca kitab amalnya …

Al-Quran  juga  menginformasikan   bahwa   setiap   masyarakat mempunyai usia:

Setiap masyarakat mempunyai ajal (QS Al-A’raf [7]: 34).

Kedua ayat di atas tidak berbicara  tentang  ajal  perorangan, tetapi ajal masyarakat. Lengah akan adanya usia atau ajal bagi setiap   masyarakat,   dapat   mengantar   kepada   kekeliruan penafsiran.

Dalam Al-Quran dan Terjemahnya yang disusun oleh Tim Departemen Agama, ditemukan komentar menyangkut ayat 76  surat Al-Isra’: Sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Makkah) untuk mengusirmu dari sana,      dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal melainkan sebentar saja.

Komentarnya adalah: “Kalau sampai terjadi Nabi Muhammad diusir oleh  penduduk Makkah, niscaya mereka tidak akan lama hidup di dunia, dan Allah segera akan membinasakan mereka. Hijrah  Nabi ke  Madinah  bukan  karena  pengusiran kaum Quraisy, melainkan semata-mata karena perintah Allah.” Komentar ini sangat  sulit diterima,  karena  Al-Quran  sendiri  secara  tegas menyatakan bahwa Rasulullah Saw. diusir dari Makkah,  

Jikalau kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad Saw.) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir (musyrik Makkah) mengeluarkannya (mengusirnya) dari Makkah … (QS Al-Tawbah [9]: 40)

Menurut pendapat penulis, ayat 76  di  atas  justru  berbicara tentang  salah  satu  hukum kemasyarakatan, yaitu apabila satu kelompok masyarakat telah mencapai puncak  kebejatannya,  maka mereka  sebagai  satu  kelompok  (bukan orang per orang) tidak lama lagi akan mengalami kebinasaan. Dalam kasus Nabi Muhammad Saw.,  puncak  kebejatan  itu adalah usaha untuk membunuh Nabi dan pengusiran dari Makkah, sehingga seperti bunyi ayat, tidak lama  sesudah  itu  –yakni sekitar sepuluh tahun—masyarakat kaum musyrik di Makkah sampai kepada ajalnya.

Kehancuran satu masyarakat –atau dengan kata lain:  kehadiran ajalnya– tidak secara otomatis mengakibatkan kematian seluruh penduduknya, bahkan boleh jadi mereka semua secara  individual tetap  hidup.  Namun,  kekuasaan, pandangan, dan kebijaksanaan masyarakat   berubah   total,   digantikan   oleh   kekuasaan, pandangan, dan kebijaksanaan yang berbeda dengan sebelumnya. Demikianlah  gambaran  singkat  tentang  beberapa  aspek dari sekian  banyak  aspek  yang   dikemukakan   Al-Quran   tentang masyarakat. []

“Robbanâ” Dalam Al-Qur’an

Di antara tata krama berdoa di dalam Islam, dianjurkan kita berdoa dengan menggunakan teks-teks yang termaktub di dalam Al-Qur’an. Hal itu dikarenakan kita ingin berbicara dan mengungkapkan keinginan kepada Allah, dan—tentunya—juga memerlukan ungkapan-ungkapan yang sesuai dengan Dzat-Nya Yang Maha Suci.

Kali ini, kami telah mengumpulkan teks-teks doa yang dimulai dengan ungkapan “Robbanâ” yang kami kumpulkan dari beberapa surah di dalam Al-Qur’an. Menurut hemat kami, doa-doa ini sangat layak untuk kita baca mengingat pembuat ungkapan-ungkapan tersebut adalah Allah sendiri yang mengetahui bagaimana dan dengan menggunakan bahasa apa Ia bisa dimohon. Selamat menyimak, dan jangan lupa mendoakan kami.

a. Doa Kebaikan Dunia dan Akhirat

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Wahai Tuhan kami! Anugrahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah kami dari api neraka.” (QS. al-Baqarah: 201)

b. Doa Kesabaran dan Kemenangan

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Curahkanlah atas kami kesabaran, kokohkanlah kaki kami, dan tolonglah kami [melawan] orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 250)

c. Doa Pembebas Beban

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَ اعْفُ عَنَّا وَ اغْفِرْ لَنَا وَ ارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Janganlah Kau azab kami jika kami lupa atau bersalah. Wahai Tuhan kami! Janganlah Kau timpakan atas kami beban yang pernah Kau bebankan atas orang-orang sebelum kami dan janganlah Kau bebankan atas kami apa yang kami tidak mampu untuk [memikul]nya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Tuan kami. Maka, tolonglah kami [melawan] orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah: 286)

d. Doa Pemelihara Hidayah

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَ هَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami! Jangalah Kau sesatkan hati kami setelah Engkau memberikan hidayah kepada kami dan anugrahkanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi anugrah.” (QS. Ali ‘Imran: 8)

e. Doa Pembebas Doa dan Peneguh Pendirian

ربَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ إِسْرَافَنَا فِيْ أَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا و انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Ampunilah dosa-dosa dan keberlebihan kami dalam urusan kami, teguhkanlah kaki [baca: pendirian] kami, dan tolonglah kami [melawan] orang-orang kafir.” (QS. Ali ‘Imran: 147)

f. Doa Pembebas Dosa dan Penutup Kejelekan

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِيْ لِلْإِيْمَانِ أَنْ آمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا، رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ كَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ الْأبْرَارِ

“Wahai Tuhan kami! Kami telah mendengar [suara] seorang penyeru yang menyeru kepada keimanan [seraya berkata], ‘Berimanlah kepada Tuhan kalian!’ Lalu, kami beriman. Wahai Tuhan kami! Ampunilah dosa-dosa kami, tutupilah kejelekan-kejelekan kami, dan matikanlah kami bersama orang-orang baik.” (QS. Ali ‘Imran: 193)

g. Doa Pengusir Kehinaan

رَبَّنَا وَ آتِنَا مَا وَعَدْتَّنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلاَ تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ، إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

“Wahai Tuhan kami! Berikanlah kepada kami apa yang telah Kau janjikan kepada kami melalui para utusan-Mu dan janganlah Kau hinakan kami pada hari Kiamat, karena sesungguhnya Engkau tidak akan mengingkari janji.” (QS. Ali ‘Imran: 194)

h. Doa Pengampun Dosa dan Pendatang Rahmat

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَ إِنْ لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَ تَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-A’raf: 23)

i. Doa Penolak Kelaliman

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Janganlah Kau jadikan kami bersama orang-orang yang lalim.” (QS. al-A’raf: 47)

j. Doa Pembuka Kebenaran

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَ أَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Bukalah [baca: hukumilah] antara kami dan kaum kami dengan kebenaran, dan Engkau adalah sebaik-baik penentu hukuman.” (QS. al-A’raf: 89)

k. Doa Kesabaran

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَ تَوَفَّنَا مُسْلِمِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Curahkanlah kesabaran atas kami dan matikanlah kami dalam keadaan muslim.” (QS. al-A’raf: 126)

l. Doa Pelindung dari Kelaliman

رَبَّنَا لاَ تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَ نَجِّنَا بِرَحْمَتِكَ مِنَ الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

“Wahai Tuhan kami! Janganlah Kau jadikan kami dilalimi oleh orang-orang zalim dan selamatkanlah kami demi rahmat-Mu dari [cengkeraman] orang-orang kafir.” (QS. Yunus: 85-86)

m. Doa Penurun Rahmat dan Keselamatan

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Wahai Tuhan kami! Anugrahkanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan datangkanlah jalan keselamatan bagi kami.” (QS. al-Kahfi: 10)

n. Doa untuk Keluarga

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Wahai Tuhan kami! Anugrahkanlah kepada kami istri dan keturunan kami sebagai kebahagiaan [bagi kami] dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan: 74)

o. Doa untuk Sesama

رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَّحْمَةً وَ عِلْمًا، فَاغْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَابُوْا وَ اتَّبَعُوْا سَبِيْلَكَ وَ قِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ

“Wahai Tuhan kami! Rahmat dan ilmu-Mu telah meliputi segala sesuatu. Maka, ampunilah orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan-Mu, dan peliharalah mereka dari neraka Jahim.” (QS. al-Ghafir: 7)

p. Doa Penyingkir Siksa

رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُوْنَ

“Wahai Tuhan kami! Singkirkanlah siksa dari kami, karena sesungguhnya kami adalah orang-orang yang beriman.” (QS. ad-Dukhan: 12)

q. Doa Penyingkir Kedengkian

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَ لِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai Tuhan kami! Ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman, dan jangalah Kau tanamkan di dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Mahakasih dan Maha Penyayang.” (QS. al-Hasyr: 10)

r. Doa Penyempurna Cahaya

رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا وَ اغْفِرْ لَنَا، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Wahai Tuhan kami! Sempurnakanlah cahaya kami dan ampunilah kami, karena sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. at-Tahrim: 8)

Etika dan Doa Ziarah Kubur

Adab dan Doa Ziarah Kubur

Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya setiap Jum’at arwah orang-orang mukmin datang ke langit dunia vertikal dengan rumah mereka, seraya masing-masing mereka memanggil dengan suara yang sedih sambil menangis: wahai keluargaku, anak-anakku, ayahku dan ibuku, kerabatku, sayangi kami niscaya Allah menyayangi kalian dengan hadiah yang kalian berikan pada kami. Celaka kami (karena harta kami), kami yang dihisab, orang lain yang mengambil manfaat.”

Dalam hadis yang lain Rasulullah saw bersabda:
“Masing-masing mereka memanggil kerabatnya: Sayangi kami dengan dirham atau roti atau pakaian, niscaya Allah menyayangi kalian dengan pakaian dari surga.” Kemudian Rasulullah saw menangis. Kami (sahabat) pun ikut menangis, Rasulullah saw tak kuasa berbicara karena banyaknya menangis. Kemudian beliau bersabda: “Mereka itu adalah saudara kalian dalam agama, mereka hancur menjadi tanah setelah mereka (di dunia) diliputi kesenangan dan kenikmatan. Mereka memanggil dengan seruan: “Celaka kami, sekiranya kami dulu menginfakkan harta kami di jalan ketaatan kepada Allah dan ridha-Nya, niscaya kami tidak butuh pada kalian.” Lalu mereka pulang dengan kerugian dan penyesalan, dan mereka berseru: Cepatlah kalian bersedekah untuk mayit kalian.”

Muhammad bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah kami berziarah pada orang-orang yang telah meningga? Beliau menjawab: Boleh. Kemudian aku bertanya lagi: Apakah mereka mengenal kami ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: “Demi Allah, mereka mengenal kalian, mereka bahagia dan terhibur dengan kehadiran kalian.” Aku bertanya lagi: Apa yang harus kami baca ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: bacalah doa ini. (lihat doa berikutnya)

Imam Musa Al-Kazhim (sa) berkata:
“Barangsiapa yang tidak mampu berziarah kepada kami (Ahlul bait), maka hendaknya berziarah pada orang-orang shaleh yang berwilayah kepada kami, maka akan dicatat baginya seperti pahala berziarah kepada kami; dan barangsiapa yang tidak mampu menyambung silaturahim pada kami, maka hendaknya menyambung silaturahim pada orang-orang shaleh yang berwilayah kepada kami, maka akan dicatat baginya seperti pahala menyambung silaturahim pada kami.”

Imam Ali Ar-Ridha (sa) berkata:
“Barangsiapa yang mendatangi kuburan saudaranya yang mukmin, kemudian meletakkan tangannya pada kuburannya, dan membaca surat Al-Qadar (7 kali), maka ia akan diselamatkan pada hari kiamat.” Dalam hadis yang lain disebutkan: “dan menghadap ke kiblat.”

Syeikh Abbas Al-Qumi (ra) mengatakan: Pahala bacaan surat tersebut untuk orang yang membacanya, juga untuk penghuni kubur yang diziarahi. Karena hal ini dikuatkan oleh hadis-hadis yang lain.

Makruh Ziarah kubur di malam hari
Tentang makruhnya ziarah ke kuburan orang-orang mukmin di malam hari, Rasulullah saw bersabda kepada Abu Dzar: “Jangan sekali-kali kamu berziarah kepada mereka di malam hari.”

Adab dan doa ziarah kubur
Pertama: Ketika memasuki areal kuburan mengucapkan salam.
Abdullah bin Sinan pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bagaimana cara mengucapkan salam kepada penghuni kubur? Beliau menjawab: Ucapkan:

اَلسَّلاَمُ عَلَى اَهلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ اَنْتُمْ لَنَا فَرْطٌ وَنَحْنُ اِنْ شَآءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ

Assalâmu ‘alâ ahlid diyâr, minal mu’minîna wal muslimîn, antum lanâ farthun, wa nahnu insyâallâhu bikum lâhiqûn.

Salam atas para penghuni kubur, mukminin dan muslimin, engkau telah mendahului kami, dan insya Allah kami akan menyusulmu.

Atau mengucapkan salam seperti yang diajarkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib (sa):

اَلسَّلاَمُ عَلَى اَهْلِ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنْ اَهْلِ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ، يَا اَهْلَ لاَ اِلَهَ اِلاَّ بِحَقِّ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ كَيْفَ وَجَدْتُمْ قَوْلَ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ مِنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ، يَا لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ بِحَقِّ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ اِغْفِـرْ لِمَنْ قَالَ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ، وَاحْشَـرْنَا فِي زُمْرَةِ مَنْ قَالَ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ عَلِيٌّ وَلِيُّ اللهِ

Assâlamu ‘alâ ahli lâ ilâha illallâh min ahli lâ ilâha illallâh , ya ahla lâ ilâha illallâh bihaqqi lâ ilâha illallâh kayfa wajadtum qawla lâ ilâha illallâh min lâ ilâha illallâh, ya lâ ilâha illallâh bihaqqi lâ ilâha illallâh ighfir liman qâla lâ ilâha illallâh, wahsyurnâ fî zumrati man qâla lâ ilâha illallâh Muhammadun Rasûlullâh ‘Aliyyun waliyullâh.

Salam bagi yang mengucapkan la ilaha illallah dari yang mengucapkan la ilaha illallah, wahai yang mengucapkan kalimah la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah, bagaimana kamu memperoleh kalimah la ilaha illallah dari la ilaha illallah, wahai la ilaha illallah dengan hak la ilaha illallah ampuni orang yang membaca kalimah la ilaha illallah, dan himpunlah kami ke dalam golongan orang yang mengu¬cap¬kan la ilaha illallah Muhammadur rasululullah Aliyyun waliyyullah.

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: “Barangsiapa yang memasuki areal kuburan, lalu mengucapkan (salam tersebut), Allah memberinya pahala kebaikan 50 tahun, dan mengampuni dosanya serta dosa kedua orang tuanya 50 tahun.”

Kedua: membaca:
1. Surat Al-Qadar (7 kali),
2. Surat Al-Fatihah (3 kali),
3. Surat Al-Falaq (3 kali),
4. Surat An-Nas (3 kali),
5. Surat Al-Ikhlash (3 kali),
6. Ayat Kursi (3 kali).

Dalam suatu hadis disebutkan: “Barangsiapa yang membaca surat Al-Qadar (7 kali) di kuburan seorang mukmin, Allah mengutus malaikat padanya untuk beribadah di dekat kuburannya, dan mencatat bagi si mayit pahala dari ibadah yang dilakukan oleh malaikat itu sehingga Allah memasukkan ia ke surga. Dan dalam membaca surat Al-Qadar disertai surat Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlash dan Ayat kursi, masing-masing (3 kali).”

Ketiga: Membaca doa berikut ini (3 kali):

اَللَّهُمَّ اِنِّي اَسْئَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ اَنْ لاَتُعَذِّبَ هَذَا الْمَيِّتِ

Allâhumma innî as-aluka bihaqqi Muhammadin wa âli Muhammad an lâ tu’adzdziba hâdzal may¬yit.
Ya Allah, aku memohon pada-Mu dengan hak Muhammad dan keluarga Muhammad janganlah azab penghuni kubur ini.

Rasulullah saw bersabda:
“Tidak ada seorang pun yang membaca doa tersebut (3 kali) di kuburan seorang mayit, kecuali Allah menjauhkan darinya azab hari kiamat.”

Keempat: Meletakkan tangan di kuburannya sambil membaca doa berikut:

اَللَّهُمَّ ارْحَمْ غُرْبَتَهُ، وَصِلْ وَحْدَتَهُ، وَاَنِسْ وَحْشَتَهُ، وَاَمِنْ رَوْعَتَهُ، وَاَسْكِنْ اِلَيْهِ مِنْ رَحْمَتِكَ يَسْـتَغْنِي بِهَا عَنْ رَحْمَةٍ مِنْ سِوَاكَ، وَاَلْحِقْهُ بِمَنْ كَانَ يَتَوَلاَّهُ

Allâhumarham ghurbatahu, wa shil wahdatahu, wa anis wahsyatahu, wa amin raw‘atahu, wa askin ilayhi min rahmatika yastaghnî bihâ ‘an rahmatin min siwâka, wa alhiqhu biman kâma yatawallâhu.

Ya Allah, kasihi keterasingannya, sambungkan kesendiriannya, hiburlah kesepiannya, tenteramkan kekhawatirannya, tenangkan ia dengan rahmat-Mu yang dengannya tidak membutuhkan kasih sayang dari selain-Mu, dan susulkan ia kepada orang yang ia cintai.

Ibnu Thawus mengatakan: Jika kamu hendak berziarah ke kuburan orang-orang mukmin, maka hendaknya hari Kamis, jika tidak, maka waktu tertentu yang kamu kehendaki, menghadap ke kiblat sambil meletakkan tangan pada kuburannya dan membaca doa tersebut.

Muhammad bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa): Bolehkah kami berziarah ke orang-orang yang telah meningga? Beliau menjawab: Boleh. Kemudian aku bertanya lagi: Apakah mereka mengenal kami ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: “Demi Allah, mereka mengenal kalian, mereka bahagia dan terhibur dengan kehadiran kalian.” Aku bertanya lagi: Apa yang baca ketika kami berziarah kepada mereka? Beliau menjawab: bacalah doa ini:

اللَّهُمَّ جَافِ اْلاَرْضَ عَنْ جُنُوبِهِمْ وَ صَاعِدْ إِلَيْكَ أَرْوَاحَهُمْ وَ لَقِّهِمْ مِنْكَ رِضْوَانًا وَ أَسْكِنْ إِلَيْهِمْ مِنْ رَحْمَتِكَ مَا تَصِلُ بِهِ وَحْدَتَهُمْ وَ تُونِسُ بِهِ وَحْشَتَهُمْ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْ‏ءٍ قَدِيرٌ

Allâhumma jâfil ardha ‘an junûbihim, wa shâ’id ilayka arwâhahum, wa laqqihim minka ridhwânâ, wa askin ilayhim mir rahmatika mâ tashilu bihi wahdatahum, wa tûnisu bihi wahsyatahum, innaka ‘alâ kulli syay-in qadîr.

Ya Allah, luaskan kuburan mereka, muliakan arwah mereka, sampaikan mereka pada ridha-Mu, tenteramkan mereka dengan rahmat-Mu, rahmat yang menyambungkan kesendirian mereka, yang menghibur kesepian mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
(Disarikan dari kitab Mafatihul Jinan, pasal 10, hlm 567-570)

Wassalam

Keutamaan Bulan Sya’ban

Awal bulan Sya’ban 1429 bertepatan hari Ahad, 03 Agustus 2008

Dikutip dari tulisan Syamsu Rifai

 

Rasulullah saw bersabda:
“…Bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku…”(Mafatihul Jinan, bab 2, Sya’ban)

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah. Barangsiapa yang berpuasa satu hari, maka wajib baginya surga. Barangsiapa yang dua hari, maka ia akan menjadi sahabat para nabi dan shiddiqin pada hari kiamat. Barangsiapa yang berpuasa penuh satu bulan dan bersambung dengan bulan Ramadhan, maka dosa-dosa diampuni, dosa kecil maupun dosa besarnya walaupun ia berasal dari darah haram.”
Hadis ini bersumber dari Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) dari ayahnya dari bapak-bapaknya dari Imam Ali bin Abi Thalib (sa). (Fadhail Al-Asyhur Ats-Tsalatsah: 55)

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata: Ketika bulan Sya’ban tiba Ali Zainal Abidin (sa) mengumpulkan para sahabatnya kemudian berkata: “Wahai sahabat-sahabatku, tahukah kamu bulan apakah ini? Bulan ini adalah bulan Sya’ban, Nabi saw bersabda: ‘Bulan Sya’ban adalah bulanku, berpuasalah kamu di bulan ini karena cinta kepada Nabimu dan mendekatkan diri kepada Tuhanmu’. Aku bersumpah, demi Zat yang diriku dalam kekuasaan-Nya, sungguh aku mendengar ayahku Al-Husein (sa) berkata: ‘Aku mendengar Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (sa) berkata: ‘Barangsiapa yang berpuasa di bulan Sya’ban karena cinta kepada Rasulullah saw dan mendekatkan diri kepada Allah, Dia mendekatkannya pada kemuliaan-Nya pada hari kiamat dan mewajibkan baginya surga’.” (Mafatihul Jinan, bab 2, Sya’ban)

Selengkapnya tentang keutamaan bulan Sya’ban, silahkan klik disini

Wassalam

KEPEMIMPINAN 12 IMAM

Al-Quran dalam topik Imamah tidak membawa sebuah nama satupun yang disebut sebagai seorang Imam. Mungkin hal ini sebagai salah satu metode Allah SWT untuk menjaga Al-Quran dari tahrif, atau ada hikmah-hikmah lain yang masih terselubung. Walaupun demikian Al-Quran telah menjelaskan secara global Imamah Ali as  dan putra-putra beliau dalam beberapa ayat, dan hal ini telah dijelaskan oleh rasul sendiri secara gamblang, sehingga tidak ada kesamaran lagi bagi setiap pribadi pencari hakikat dan kebenaran.

Di dalam Al-Quran banyak terdapat Ayat-ayat yang menjelaskan kelayakan Imam Ali as sebagai seorang Imam.

Allamah Hilly dalam kitab Nahj Al Haq wa Kasyf Al Sidq mengatakan ada sekitar 88 ayat yang menetapkan keimamahan Ali as. Ayat-ayat tersebut, berlandaskan hadis-hadis yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah yang menggambarkan dimensi-dimensi keagungan pribadi Ali dan keImamahan beliau. [1]

Begitu juga Qody Said Mar’asyi dalam Ihqaq Al haq menyebutkan sekitar 94 ayat lain yang menetapkan Wilayah Imam Ali a.s dengan berdasarkan 37 kitab standar Ahli Sunnah.

Di sini kita hanya ingin membawakan dan membahas satu ayat Al-Quran yang merupakan penjelas keimamahan Ali as.

Ayat Wilayah

“Sesungguhnya Wali kalian hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dalam keadan ruku’”. (Al Maidah 55).

Berdasarkan hadis-hadis yang dinukil baik dari kalangan ulama’ Syiah maupun Ahli Sunnah, ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali a.s, dan sesuai kajian dan penuturan para ahli tafsir dan ahli hadis  Syiah serta pengakuan sekelompok ulama’ yang tidak sedikit dari kalangan Ahli Sunnah, bahwa pribadi yang menyedekahkan cincinnya pada si faqir dalam keadaan shalat (waktu ruku’) itu adalah pribadi agung Ali as. [2]

Allamah Mar’asyi dalam kitabnya Ihqaqul Haq menuturkan bahwa ada sekitar 85 kitab hadis dan tafsir Ahli Sunnah yang menukil bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Imam Ali as

Dengan riwayat-riwayat ini jelas bahwa yang dinginkan dari kata jamak pada ayat di atas adalah kata tunggal dan itu Imam Ali as. Akan tetapi yang perlu dicermati di sini adalah apa arti sebenarnya dari kata wali yang terdapat dalam ayat ini.

Arti wali: Kata-kata Wali, Wilayat, Wala, Maula, dan  Awla, berasal dari akar kata yang sama yaitu Wala. Kata ini sangat banyak digunakan oleh Al-Quran; 124 dengan kata benda, dan sekitar 112 tempat dipakai dalam bentuk kata kerja.

Sebagaimana yang termuat dalam kitab Mufradatul Quran, karya Ragib Isfahani, dan kitab Maqayisul Lugah karya Ibn Fars, arti asli dari kata ini adalah kedekatan dua benda, yang seakan-akan tak berjarak sama sekali. Maksudnya jika dua sesuatu sudah sangat berdekatan, sangatlah mustahil jika dibayangkan ada sesuatu ketiga, ketika kita katakan walia zaid Amr artinya zaid di sisi Amr.

Kata ini juga bermakna teman, penolong dan penanggung jawab. Dengan kata lain pada semua arti tadi terdapat semacam kedekatan dan hubungan serta interaksi, dan untuk menentukan arti yang dinginkan dibutuhkan tanda-tanda dan kecermatan untuk memahami kontek kalimatnya.

Dengan memperhatikan poin-poin yang kita sebutkan tadi, kita dapat memahami bahwa maksud dari ayat di atas adalah hanya tuhan, rasul, dan Ali a.s sajalah yang memiliki kedekatan spesial dengan kaum muslim.

Telah jelas arti dekat di sini berkonotasi spiritual / metafisik bukan material. Konsekuensi kedekatan ini adalah wali (pemimpin) dapat mengganti semua hal yang dapat digantikan dari maula alaih (yang dipimpin). Atas dasar ini segala tindakan yang dilakukan oleh seorang muslim yang dapat diganti, wali mampu melakukannya dan mengiterpensi. Dengan pengertian semacam ini Wilayah diartikan penanggung jawab dan pemilik Ikhtiar. [3]

Dari satu sisi telah jelas tuhan wali seluruh hamba dalam urusan duniawi dan akhirat mereka. Dan Ia wali kaum mu’min dalam urusan agama dan penyeruan mereka terhadap kebahagiaan dan kesempurnaan mereka. Rasul dengan izin tuhan merupakan wali bagi kaum mu’minin. wilayah Imam Ali a.s yang dijelaskan dalam ayat ini juga bermaksud sama seperti arti di atas, yang konsekuensinya beliau mampu menginterfensi masalah dan urusan kaum muslim, dan beliau mendapatkan prioritas dalam jiwa, harta, kehormatan dan agama manusia. [4]

Ta’wilan Ahlisunnah

Mayoritas ulama’ Ahli sunnah mengakui bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali as bahkan Zamakhsari mengatakan dalam al Kassyaf, ketika menjawab persoalan kenapa berbentuk jamak bukankah ini ayat tersebut turun berkenaan dengan satu person saja (Imam Ali as):“hal ini supaya manusia mengamalkannya (bersedekah dalam keadaaan ruku’), dan mengindikasikan pribadi mu’min harus berbuat seperti yang demikian.” [5]

Fakhrur Razi dalam tafsirnya juga mengatakan: “ayat ini turun berkaitan dengan Ali a.s, dan sudah menjadi kesepakatan para ulama bahwa bersedekah dalam keadaan shalat (waktu ruku’) tidak pernah dilakukan kecuali oleh seorang pribadi agung Ali as.” [6]

Suyuthi dalam Durur Mansturnya membawakan pelbagai riwayat yang menunjukkan bahwa sebab turunya ayat ini adalah Ali a.s:”

Poin terpenting dan mendasar yang digunakan Ahli Sunnah untuk menjustifkasi ayat ini adalah, maksud dari wali dalam ayat ini adalah teman, bukan penanggung jawab dan pemilik ikhtiar.

Akan tetapi sebagaimana telah dijelaskan di awal-awal tadi –arti semacam ini (teman) tidak akan muncul dengan adanya alat hasr yang berupa Innama. Karena dengan demikian akan muncul konsekuensi pelarangan persahabatan dan berteman dengan selain Allah, Rasul, dan Ali as

 Kepemimpinan Ali as dalam Tinjauan Hadis Dan Sunnah

Dalam kitab-kitab hadis, baik di kalangan Ahlisunnah maupun di kalangan Syiah, terdapat bayak riwayat dari rasul yang menuturkan dan mencatat bahwa Ali as merupakan Imam dan Khalifah setelah beliau.

Riwayat-riwayat ini menunjukkan bahwa semenjak diutus, nabi telah diperintahkan untuk menyampaikan hal penting ini –kepemimpinan Ali as setelah beliau- kepada kaum muslimin, dan beliau juga telah menyampaikannya di berbagai kesempatan.

Mengingat kapasitas kitab ini tidak bisa  membahas riwayat itu secra keseluruhan kita hanya akan membawakan riwayat-riwayat yang berkaitan dengan peristiwa Al Gadir secara terperinci, dan selanjutnya kita akan membawakan riwayat-riwayat lain secara global.

Hadis Gadir

Hadis Gadir berkaitan dengan sebuah momen yang terjadi di penghujung kehidupan nabi SAWW, peristiwa ini terjadi pada waktu beliau kembali dari penunaian haji terkahir yang beliau laksanakan. Peristiwa akbar ini terjadi  di sebuah tempat yang diberi nama Gadir Khum. Tempat ini adalah tempat terpisahnya para jamaah haji dari Mesir, Irak, dan para jamaah haji yang berangkat dari kota Madinah.

Pada tahun kesepuluh hijriyah, Nabi SAWW bersama sekelompok besar dari sahabat pergi ke kota Mekah untuk menunaikan ibdah hajji. Setelah selesai menunaikan ibadah tersebut, beliau memberi titah kepada para sahabat untuk kembali ke kota Madinah. Ketika para rombongan sampai di kawasan Rabig sekitar tiga mil dari Juhfah, Jibril datang dan turun menjumpai rasul di Gadir Khum dengan menyampaikan misi dan wahyu dari tuhan: “Wahai Rasul sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu, dan andai kamu tidak melakukannya niscaya kamu tidak menyampaikan risalahNya, dan (ketahuilah) Allah akan menjagamu dari manusia.”(Maidah 67)

Dengan turunnya ayat ini rasul memerintahkan rombongan untuk berhenti, dan menyuruh mereka yang didepan untuk berhenti dan kembali, serta beliau memerintahkan untuk menunggu para rombongan yang masih tertinggal di belakang. Saat itu adalah waktu Dhuhur, cuaca sangat panas sekali, sebuah mimbar pun didirikan. Shalat Duhur didirikan secara berjamaah, kemudian setelah para sahabat berkumpul, beliau berdiri di atas mimbar setinggi 4 onta, dan dengan suara lantang beliau pun berpidato:” segala puji bagi Allah, dariNya kita minta pertolongan, dan kepadaNya kita beriman dan berserah diri, dan kita berlindung kepadaNya dari kejelekan amal perbuatan kita, tuhan yang tiada pembimbig dan pemberi hidayat selainNya. Siapa yang diberi petunjuk olehNya, tidak akan ada seorangpun yang sanggup menyesatkannya, aku bersaksi bahwa tiada yang layak disembah selainNya, dan Muhammad adalah utusan dan HambaNya.

Wahai Manusia sudah dekat rasanya aku akan memenuhi panggilanNya, dan akan meninggalkan kalian. Aku akan dimintai pertanggung jawaban, kalian pun juga demikian.

v Apakah yang kalian pikirkan tentang diriku?.

Ø  Kami bersaksi bahwa anda telah menjalankan dan telah berupaya untuk menyampaikan misi  yang telah anda emban, semoga Allah SWT memberikan pahala kepadamu.

v Apakah kalian bersaksi bahwa tuhan hanya satu dan Muhammad hamba sekaligus nabiNya, Surga, Neraka, dan kehidupan abadi di dunia lain adalah benar dan pasti?

Ø Iya, kami bersaksi.

v wahai manusia aku akan menitipkan dua hal berharga pada kalian supaya kalian beramal sesuai dengan dua hal tersebut.

Ø Pada saat itu berdirilah seorang dari mereka seraya berkata:”apa kedua hal tersebut?”

v Pertama kitab suci tuhan di mana pada satu sisinya berada di tangan tuhan, sedang yang lain berada di tangan kalian, sedang hal lainnya yang akan aku titipkan pada kalian adalah itrah dan ahlul baytku. Tuhan telah mengabariku bahwa kedua hal tadi tidak akan  berpisah sampai kapanpun.

v Wahai manusia janganlah kalian mendahului Al-Quran dan itrahku dan sekali-kali jangan tinggalkan keduanya karena kalian akan binasa dan celaka.

Tak lama kemudian nabi mengangkat tangan Ali as setinggi-tingginya sehingga tampaklah kulit ketiak kedua pribadi agung itu, dan beliau memperkenalkan imam Ali kepada khalayak seraya berkata:”Wahai manusia siapa gerangan yang lebih layak dan lebih berhak terhadap kaum mu’minin dari pada mereka sendiri?

Ø Tuhan dan rasulnya lebih tahu.

v Sesungguhnya Allah maulaku dn aku maula kaum mu’minin, dan aku lebih berhak atas diri mereka ketimbang mereka. Maka barang siapa yang maulanya adalah diriku maka ketahuilah bahwa Ali maulanya.

Sesuai penuturan Ahmad bin Hanbal, nabi mengulang ungkapan ini sebanyak empat kali, kemudian melanjutkan dengan do’a:”ya Allah cintailah mereka yang mencintai Ali, dan musuhilah mereka yang memusuhinya, kasihilah mereka yang mengasihinya, murkailah mereka yang membuat murka dia, tolonglah mereka yang menolongnya, hinakanlah mereka yang menghinanya dan merendahkannya, dan jadikanlah ia sebagai sendi dan poros (mihwar)  kebenaran.

Koreksi Sanad Hadis

Hadis Gadir salah satu hadis yang sangat populer baik dalam Syiah maupun Ahli Sunnah, sebagian mengklaim bahwa hadis ini mutawatir. Selain para ulama’ Syiah, sekelompok dari ulama’ Ahli Sunnah pun secara independen membahas dan menganalisanya, seperti: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Thabari (W -310 H), dan Abu Abbas Ahmad bin Ahmad bin Said Hamadani (W-333 H), juga Abu Bakar Muhammad bin Umar bin Muhammad bin Salim Tamimi Baghdadi (W- 355 H) Dan masih banyak lagi. [7]

Untuk lebih memperjelas sejauh mana perhatian Tabiin dan Tabiinnya Tabiin dan para ilmuwan dan Fuqaha terhadap penukilan hadis ini dan kesahihan Sanadnya, kita akan bawakan secara singkat sejumlah Perawi hadis ini dari Ahli Sunnah di setiap abad, sedang untuk detailnya bisa dirujuk sendiri pada kitab-kitab yang secara panjang lebar memuat permasalahan ini. Para penukil hadis ini adalah: 

1. 110 sahabat.

2. 84 Tabiin.

3. 56 Ulama’ abad kedua.

4. 92 Ulama’ abad ketiga.

5. 43 Ulama’ abad keempat

6. 24 Ulama’ abad kelima.

7. 20 Ulama’ abad keenam.

8. 20 Ulama’ abad ketujuh.

9. 19 Ulama’ abad kedelapan.

10.    16 Ulama’ abad kesembilan.

11.    14 Ulama’ abad kesepuluh.

12.    12 Ulama’ abad kese belas.

13.    13 Ulama’ abad kedua belas.

14.   12 Ulama’ abad keiga belas.

15.   19 Ulama’ abad keempat belas.

Para Muhaddis (ahli hadis) Ahli Sunnah, Yang menukil hadis ini di antaranya; Ahmad bin Hanbal Syibani dengan 40 sanad, Ibn hajar Asqalani dengan 25 sanad, Jazri Syafii 80 sanad, Abu Said Sajistani 120 sanad, Amir Muhammad Yamani 40 sanad, Nisai 250 sanad, Abu Ya’la Hamadani 100 sanad, Abul I’rfan Haban dengan 30 sanad. [8]

Dengan demikian peristiwa Gadir Khum dan pelantikan yang dilakukan oleh nabi SAWW, merupakan salah satu musallamat sejarah, sehingga siapapun yang mengingkarinya, dia tidak akan bisa menerima kejadian dan peristiwa-peristiwa historis lainnya.

 

Arti Hadis

Poin utama dari hadis ini adalah penggalan riwayat yang mengatakan:

من كنت مولاه فهذا علي مولاه “ Barang siapa Aku pemimpinnya, maka Ali juga pemimpinnya.”

Dengan memperhatikan berbagai kontek yang ada, maksud dari kata maula dalam hadis ini berarti aula atau lebih utama. Pada akhirnya hadis ini mengindikasikan bahwa Ali a.s adalah wali setelah nabi dan pengnggung jawab kaum muslimin, dan dia lebih utama dari diri mereka. Qarinah atau kontek-kontek tersebut adalah:

 1. Pada permulaan hadis nabi bersabda” tidak kah aku terhadap diri kalian lebih utama dari kalian? ungkapan setelahnya yang mengatakan man kuntu maulahu… berdasarkan pada ungkapan ini, dengan demikian keserasian keduanya memberikan pengertian bahwa maula di situ berarti  awla dalam tashruf.

2. Pada akhir hadis rasul bersabda: ” اللهم وال من والاه وعادمن عاده doa ini merupakan penjelas akan maqam imam Ali a.s, dan hal ini dapat bermakna sebagaimana mestinya jika wali itu berarti maqam kepemimpinan dan wilayah.

1. Rasul dari khalayak meminta penyaksian, dan ungkapan man kuntu.., dalam  kontek penyaksian terhadap keesaan tuhan, dan kenabian rasul. Sehingga nilai hal tersebut (kewalian Ali as) dapat dipahami dari konteks tadi (penyaksian dengan keesaan Allah dan kenabian rasul).

2. Setelah nabi selesai dari ucapan beliau, dan sebelum khalayak berpencar dan terpisah-pisah satu sama lain, Jibril datang dengan membawa wahyu:”Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu…” dan waktu itu rasul bersabda:” Maha Besar Allah atas penyempurnaan agama, dan perampungan nikmat, tuhan telah ridha dengan misiku dan kepemimpinan Ali as setelahku.” Atas dasar ini apakah ada satu tafsiran lagi selain Imamah dan kepemimpinan Ali as dari tema penyempurnaan agama dan perampungan nikmat, dan ditambah posisinya disejajarkan dengan sariat?.

Selain kontek dan berbagai qarinah yang telah kita sebutkan tadi, di sana terdapat kontek-kontek lain yang mengindikasikan keagungan misi yang harus disampaikan oleh rasul pada saat itu. Untuk lebih lengkapnya dapat dirujuk dalam kitab Al-Gadir jild pertama, halaman 370-383.

Sekilas Tentang Hadis-Hadis Yang Lain

1. ketika ayat indar [9]  turun, nabi meminta Abu Thalib untuk menyiapkan makanan, dan mengundang semua anak keturunan Abdul Muthalib. Pada waktu itu beliau bersabda:”siapakah dari kalian yang sudi menjadi patner bagiku, dan membantuku, niscaya dia akan menjadi saudara, khalifah, dan wasi setelah aku?.

Pada waktu itu tidak ada satu orang pun yang menjawab panggilan dan seruan nabi selain Ali as, beliau bersabda: “aku siap membaiat dan menolongmu” kemudian Nabi bersabda:” dia adalah saudaraku, wasi, khalifah dan pewaris sepeninggalku maka dengarkanlah dan patuhilah ucapannya!. [10]

2. ketika rasul hijrah ke Madinah, beliau mengikat tali persaudaraan diantara para sahabat kecuali Ali as, Ali as bersabda:”Wahai rasul kamu telah mengikat persaudaraan antara para sahabat, bagaimana dengan diriku?” baginda nabi bersabda:”apakah kamu tidak rela untuk menjadi saudaraku dan khalifah sepeninggalku?. [11]

3. Dalam riwayat yang tak sedikit jumlahnya rasul meminta dari para sahabat untuk memanggil Ali a.s dengan gelar Amirul Mu’minin, kemudian beliau bersabda:” kamu penghulu kaum muslim dan Imam kaum Muttaqin dan pemimpin para pribadi berwajah ceria di surga”.

Beliau juga bersabda:” ia wali setiap mu’min dan mu’minah”. Hadis ini diriwayatkan oleh kedua kelompok baik Syiah maupun Ahli Sunnah, dan kompilasi dari keduanya mencapai pada batas mutawatir. [12]

4. Secara mutawatir berdasarkan penukilan ulama’ Syiah dan Ahli Sunnah rasul bersabda kepada Imam Ali:” posisi dan kedudukanmu di sisiku seperti posisi dan kedudukan Harun disisi Musa as”. [13]  Artinya setiap hal yang dimiliki oleh Harun terhadap Musa as, juga dimiliki oleh Ali as dari rasul. Dan hal terpenting dari semua itu adalah khilafah dan kewasiaan Harun dari Musa as

Imamah / Kepemimpinan Para Imam Yang Lain

Keimamaham Imam yang lain dengan berbagai ungkapan dan penjelasan telah disampaikan pula oleh rasul SAWW. Riwayat-riwayat yang bertalian dengan hal ini dapat kita kategorikan dalam 6 kategori;

1. Kategori pertama riwayat-riwayat yang menyinggung Ahlul bayt, I’trah, durriyah, dan Dul Qurba. Begitu juga telah dijelaskan ciri-ciri umum dan universal para Imam yang berhak, dan keberlangsungannya dari keturunan Az Zahra as, riwayat-riwayat yang memuat permasalahan tersebut sangat banyak kita dapati dalam kitab-kitab sahih dan jami’ Ahli Sunnah. Riwayat tersebut secara luas dan panjang lebar telah termuat dan terkumpul dalam kitab Aqabatul Anwar, Al Gadir, Al Muraja’at, dan Ihqaqul Haq.

2. Kelompok riwayat yang menjelaskan perpindahan / peralihan kepemimpinan (Imamah) atau suksesi dari imam Ali a.s kepada imam Hasan as dan dari beliau kepada Imam Husain. Sebagian dari riayat-riwayat tersebut telah dimuat dalam kitab Ihqaqul Haq jild ke 19.

3. Kelompok riwayat yang yang menyebutkan jumlah Imam sebanyak 12 orang, dengan tanpa penyebutan nama. Riwayat ini mencapai 130 riwayat. Dan sekitar 40 riwayat yang menyebutkan bahwa khalifah dan pengganti setelah nabi SAWW sejumlah Nuqaba nabi Musa As. [14]

4. kurang lebih 91 riwayat menyebutkan jumlah Imam dengan membawakan nama Imam pertama dan terakhir. Dan sejumlah 94 riwayat yang hanya menyebutkan nama Imam yang terakhir. [15]

5. Sekitar 139 hadis yang menyebutkan bahwa Imam berjumlah 12 orang, dan secara gamblang riwayat-riwayat ini mengatakan bahwa 9 orang dari mereka adalah anak keturunan Al-Husain as dan sekitar 107 dari riwayat tadi menyebutkan  nama Imam yang terakkhir. [16]

6. Sekitar 50 hadis menyebutkan nama-nama Imam secara lengkap dari awal sampai akhir. Sebagai contoh berikut ini contoh dari riwayat-riwayat tersebut.                                                                                                                                                                                                   

Jabir bin Abdillah berkata:”ketika ayat 55 dari surat Nisa turun yang menegaskan ”taatilah Allah, dan taatilah rasul, dan para pemimin dari kalian”  aku bertanya pada rasul SAWW, “kami telah mengetahui tuhan dan rasulnya, namaun Ulil Amr yang wajib kita taati tersebut belum kami ketahui, siapakah gerangan mereka itu? Beliau bersabda:”mereka penggantiku, para Imam dan pemimpin sepeninggalku, yang pertama Ali, kemudian secara berurutan Hasan pura Ali, Husain putra Ali, Ali putra Al Husain, Muhammad putra Ali yang dalam Taurat dikenal dengan Baqirul Ulum, dan kamu pada suatu saat akan berjumpa dengannya, dan kapanpun kau menjumpainya sampaikanlah salamku padanya. Kemudian setelahnya secara urut Ja’far putra Muhammad, Musa putra Ja’far, Ali putra Musa, Muhammad putra Ali, Ali putra Muhammad, Hasan putra Ali, dan kemudian putranya yang nama dan kunyahnya (panggilan) sama dengan ku. Tuhan akan menjadikannya pemimin bagi dunia, dan ia akan tersembunyi dari pandangan dan penglihatan, dan ia akan gaib lama sekali. Sampai suatu saat di mana hanya ada orang-orang yang memiliki keiman yang  kokoh, yang teruji dan mendalam akan keyakinan terhadap kepemimpinannya. [17]

Riwayat-Riwayat Dari Ahli Sunnah Berkenaan Dengan Ke-Imamahan 12 Orang Imam

Tepat sekali kalau pada kajian ini kita bawakan riwayat- riwayat tentang ke-Imamahan para Imam 12 yang termuat dalam kitab-kitab standar Ahli Sunnah, riwayat- riwayat tersebut diantaranya:

1. Bukhari menukil dari Jabir bin Samarah:”Aku mendengar rasul bersabda:”setelahku 12 orang pemimpin akan datang.” Saat itu beliau melanjutkan ucapannya yang tak terdengar olehku kemudian ayahku berkata bahwa keseluruhan imam tersebut semuanya dari bangsa Quraisy.” [18]

2. Muslin juga menukil dari Jabir bin samarah:”aku mendengar rasul SAWW bersabda:”Islam akan memiliki pemimpin sampai 12 orang. Kemudian beliau bersabda yang tak bisa kupahami. Aku bertanya pada ayahku tentang apa yang tidak aku pahami itu, ia berkata:”beliau bersabda semuanya dari kaum Quraisy. [19]

3. Muslim dari Jabir juga menukil, ia (Jabir) berkata:”aku dan ayahku berjalan bersama rasul SAWW saat itu beliau bersabda:”agama ini akan memiliki 12 pemimpin, yang kesemuanya dari bangsa Quraisy. [20]

4. Muslim juga menukil dari Jabir:”aku mendengar rasul bersabda:”agama Islam akan langgeng sampai hari kiamat nanti, sampai dua belas orang khalifah memerintah yang kesemuanya dari Quraisy. [21]

Imam Ke 12

Sebagaimana kita jelaskan di atas, berdasarkan riwayat yang amat banyak yang diriwayatkan dari rasul SAWW, bahwa jumlah para imam ma’sum yang akan datang silih berganti dan menjadi pelanjut dan penerus jalan dan pembawa lentera hidayah bagi manusia adalah 12 orang, di mana imam kesebelas dari mereka telah melaksanakan tugas dan misi ilahi dalam menjaga agama dalam kondisi tersulit yang ditabur oleh para penguasa penyembah kekuasaan, yang  pada akhirnya mereka korbankan nyawa mereka di jalan agama tuhan.

Keimamahan imam Ke 12 Imam Mahdi as dimulai semenjak sahidnya Imam ke 11 (260 h), dan tetap berlangsung sampai saat ini, dan seterusnya. Hal ini menuntut kita untuk sedikit membahas sebagaian hakikat yang terkait dengan keimamahan  beliau.

Imam dan Hujjah tuhan Ke 12 lahir pada pertengahan bulan Sya’ban tahun 255 hijriyah, di kota Samira. Nama dan kunyah beliau sama dengan rasul M-H-M dan Abul Qasim, kendati ada larangan untuk menyebut nama beliau. [22] Beliau memiliki beberapa gelar di antaranya: Hujjat, Qaim, Wali Ashr, Khalafus Shaleh, Sahibuz Zaman, Baqiytullah dan al-Mahdi yang merupakan gelar termasyhur bagi beliau.

Imam Mahdi memiliki dua gaibah, pertama gaib sugra (kecil) yang berlangsung sangat singkat, dan yang kedua gaibah kubra (besar) gaibah ini berlangsung sangat lama. Gaibah sugra berlangsung dari kelahiran beliau sampai tahun 329 hijriah, sedang gaibah kubra dari tahun 329 tadi sampai masa kemunculan dan bangkitnya beliau nanti.

 Kabar Gembira Akan Munculnya Imam Mahdi as dalam Hadis

Syiah Maupun Ahli Sunnah secara mutawatir menukil riwayat-riwayat yang mengatakan:”pada akhir zaman nanti akan muncul seorang manusia yang bernama Mahdi yang akan melenyapkan kebodohan dan kezaliman, dan akan meyebar luaskan ilmu dan keadilan, dan ia akan menerapkan agama tuhan di atas dunia, kendati para musyrik tidak menyetujui dan membencinya”.

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa:”jika umur dunia hanya tinggal sehari, tuhan akan memanjangkan hari itu sampai seorang anak manusia muncul yang akan memenuhi alam dengan keadilan, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman dan penganiyaan. [23]

Mengingat pentingnya statistik riwayat-riwatyat yang dinukil baik oleh kalangan Syiah maupun Ahli Sunnah, berikut ini kami bawakan riwayat-riwayat tersebut yang kami bagi dalam 11 kategori:

1. sekitar 657 riwayat tentang kabar gembira munculnya Imam Mahdi as

2. 389 riwayat yang menjelaskan tentang Mahdi dari Ahli Bayt rasul.

3. 214 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Ali as

4. 192 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Fatimah.

5. 148 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi adalah anak ke-9 dari keturunan Al Husain.

6. 185 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi dari keturunan Imam Ali Zainal Abidin.

7. 146 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi putra Imam Hasan Askari.

8. 132 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan memenuhi alam dengan keadilan.

9. 91 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi akan gaib lama sekali.

10.    318 riwayat yang menjelaskan bahwa Mahdi memiliki umur yang sangat panjang sekali.

11.    136 riwayat yang menjelaskan mahdi adalah Imam ke-12 dari para Imam Ahlul Bayt. [24]

Ahli Sunnah dan Imam Mahdi

Begitu jelasnya kemutawatiran riwayat-riwayat yang menyebutkan kabar gembira akan munculnya Mahdi as, sampai-sampai banyak dari para ulama’ Ahli Sunnah yang mengakui dan menegaskan secara gamblang kemutawatiran riwayat-riwayat tersebut. Berikut ini sebagaian dari mereka:

Allamah Syaukani dalam kitab Attaudhih fi Tawatutri ma jaa fil Muntadhar wad Dajjal wal Masih; Hafid [25] Abu Abdillah Ganji Syafi’i (W 658 H) dalam kitab Al Bayan fi Akhbar Shahibuz Zaman; Hafid ibn Hajar Al Asqalani Syafi’I (W 852 H) dalam Fathul Bari. [26]

Atas dasar ini keyakinan terhadap munculnya Imam Mahdi as bukanlah khusus bagi Syiah saja, akan tetapi Ahli Sunnah juga menyakininya, walaupun menurut keyakinan mereka beliau as sampai sekarang belum terlahirkan ke dunia.

Bahkan Wahabiyah sendiri yang menjadi penentang nomor wahid Syiah, tak mampu mengingkarinya. Dalam stateman / penjelasan yang dikeluarkan Rabithatul Alamil Islami pada tahun 1976 Masehi secara tegas disebutkan [27]:

”…ketika kerusakan, kezaliman dan kekafiran telah menyebar luas di dunia, Allah SWT akan memenuhinya dengan keadilan melalui dia (Mahdi) as, sebagaimana dunia telah dipenuhi oleh kezaliman. Ia merupakan khalifah terakhir dari Khualafaur Rasyidin yang berjumlah 12 sebagaimana dikabarkan oleh rasul SAW yang terdapat dalam kitab-kitab hadis yang sahih. Hadis-hadis yang berkaitan dengan hal ini banyak diriwayatkan dari para sahabat besar seperti Ustman bin Affan; Ali bin Abu Thalib; Thalhah bin Ubaidillah; dan Abdurrahman bin Auf …” [28]

Selain keterangan dan penjelasan yang kita bawakan tadi, para ulama’ non-Syiah juga menulis kitab-kitab yang berkaitan dengan Imam Mahdi as seperti: Abu Nu’aim pengarang kitab Akhbarul Mahdi; Ibn Hajar Haitsami yang menulis sebuah kitab berjudul Al Qaulul Mukhtasar fi Alamatil Mahdi Al Muntadhar; dan Idris yang berkebangsaan Irak dan Maroko yang mengarang kitab dengan judul Al Mahdi.


[1] Nahjul Haq wa Kasyfus Sidq, percetkan darul hijrah, Qom, halaman 172-211.

[2] Ihqaqul haq, jld 2, halaman 399 dan seterusnya.

[3] Ragib dalam Mufradatul Quran halaman 570 mengatakan:”Wilayah berarti kemenangan, penanggung jawab dan pemilik ikhtiar sebuah perbuatan, sebagian berpendapat wilayat dan walayat memiliki satu arti yaitu penanggung jawab dan pemilik ikhtiar. Wali dan maula juga berarti demikian, hanya terkadang berkonotasi subyek (ism fa’il) dan terkadang obyek (ism maf’uli). Thabarsi dalam majmaul bayan setelah ayat 157 Baqarah mengatakan:’wali dari kata wala yang berarti berdekatan tanpa ada penghalang, wali adalah orang yang lebih berhak dan layak untuk melakukan perbuatan orang lain. Pemimpin sebuah kaum dapat dipanggil dengan wali, karena kedekatan dan secara langsung mengurusi dan menyuruh dan melarang semua urusan. Dan kepada majikan dikatakan maula karena secara langsung mengurusi masalah hamba. Ibnu faris juga mengatakan:”barang siapa bertanggung jawab atas urusan seseorang maka ia akan menjadi wali baginya. (Maqayisul Lugah jild 6, halaman 141).

[4] Allamah Sayyid Husain Tehrani, Imam Syenasi (mengenal Imam), jild 5, halaman 199-265; Allamah Sayyid Abdul Husain Syarafuddin, Al Murajaat, muraje-e-ye 38, Ustad Muthahari, Majmue-ye Atsar, jild 3, halaman 268-289.

[5] Ak-KasysYaf, percetakan mesir, tahun 1373 syamsi, jild  1, halaman 505.

[6] Tafsirul Kabir, percetakan mesir, tahun 1357 Syamsi, jild 12,halaman 30.

[7] Allamah Amini dalam jild  pertama kitab Al-Gadir halaman 152-157 telah membawakan nama-nama ulama’ yang telah menulis kitab untuk mengomentari dan menganalisa hadis ini, beliau juga menjelaskan metode yang diperaktekkan para penulis dalam memaparkan keterangannya.

[8] Jumlah ini diambil dari Al-Gadir jild pertama. Sedang pembahsan sanad hadis ini terdapat kitab-kitab tersendiri di antarana; Gayatul maram, karya Allamh sayyid Hasyim Bahrani (w 1390), dan Al-‘Aqabat, karya Sayyid Mir Hamid Husain Hindi. (w 1306)

[9] Syua’ra 214.

[10] Al-‘umdah, Ibnu Bithriq, halaman 121, 122 dan halaman 133, 134; Gayatul Maram, halaman 320; Syawahidul Tanzil, jild 1, halaman 420; Al-Gadir, jild 2, halaman 278-279.

[11] Al-“umdah, halaman 215-223;Al-Gadir, jild 3 halaman 112-125.

[12] Manaqib ibnu Magazali, halaman 65-66.

[13]

Al-‘Umdah, halaman 173-185, Musnad Ahmad, jild 3, halaman 32, Al-Gadir jild 1, halaman 51 dan jild 3, halaman 197-201.

[14] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 10-58.

[15] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 58-64.

[16] Muntakhabul Atsar, Ayatullah Shafi, halaman 65-96.

[17] Muntakhabul Atsar, halaman 101.

[18] Sahih Bukhari, jild 9, bab Istikhlaf, halaman 81.

[19] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[20] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3.

[21] Sahih Muslim, jild 6, kitab Al-Amarah, bab annas taba’un li quraisy, halaman 3, sebagai bahan tahqiq pembaca budiman dapat merujuk ada kitab, musnad bin hanbal, jild 5, halaman 86, 89, 97, 107; muntakhabul Atsar, halaman 16  ;Yanabiul Mawaddah, halaman 446.

[22] Terdapat polemic diantara ulama syiah apakah pelarangan menyebut nama Imam zaman bersifat temporal dan hanya khusus pada zaman gaib sugra beliau ataukah pelaranga tersebut permanent sifatnya dan berklaku pada setiap zaman. An-Najmus Tsaqib, Mirza Husain Thabarsi Nuri, tehran, percetakan ilmiye-ye islamiyeh, bab 2, halaman 48-49.

[23] Musnad Ahmad bin Hanbal, jild 1, halaman 99, jild 3, halaman 17 dan 70.

[24] Sesuai penuturan Ayatullah Ja’far Subhani, Muhadharah Ilahiyah,halaman 566.

[25] Hafid adalah orang yang mengetahui sunnah-sunnah nabi yang dia juga mampu membedakan sunnah-sunnah yang telah menjadi kesepakatan dan sunnah yang masih dipertentangkan. Ia pun mengetahui dengan sempurna kondisi para perawi dan tingkatan para guru-guru hadis. (Mudir Syaneh chi, Ilmul Hadis, jild 2, halaman 22).

[26] Untuk mengetahui lebih lanjut lihatlah Nuvid amn va aman, karya Ayatullah Shafi, Tehran, Darul kutubul Islamiyah, menurut tahqiq yang beliau lakukan sekitar 17 orang dari ulama’ Ahli sunnah yang menegaskan kemutawatiran riwayat-riwayat yang berkenaan dengan kemunculan Al-Mahdi as.

[27] Rabitahtul Alamil Islami, merupakan markas terbesar Wahabiyah yang berdomisili di Makah, penjelasan dan jawaban dari soal kemunculan Imam Mahdi as dikeluarkan oleh markas ini dengan tanda tangan KETUMnya.

[28] Dalam penjelasan tersebut ada sekitar 20 nama orang yang sahabat rasul SAWW yang mereka katakan telah menukil dan meriwayatkan hadis-hadis tadi, kita hanya menyebutkan saja sebagian dari mereka. (menurut penuturan Sire-ye Fisywayan, Mahdi Fisywai, Qom, Muasese-ye va ta’limati Imam Shadiq, halaman 701-703).

Arab Saudi ‘Cegat’ Iran

Rabu, 16 Juli 2008 | 07:59 WIB

MOSKWA, RABU – Arab Saudi menawarkan kontrak senjata kepada Rusia untuk membatasi kerja sama antara Rusia dan Iran. Demikian diberitakan harian Kommersant, Selasa (15/7), dari diplomat yang mengikuti pertemuan Pangeran Bandar bin Sultan dengan Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Perdana Menteri Vladimir Putin.

Pertemuan bilateral, Senin, memusatkan perhatian pada upaya memperluas kerja sama di antara kedua negara. Harian Rusia itu juga menjelaskan, tawaran kontrak senjata tersebut diutarakan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Saud al-Faisal.

Bahkan, tawaran itu sudah diajukan Raja Abdullah saat kedua negara itu bertemu di Moskwa, Februari. ”Pemimpin Arab Saudi menganjurkan Rusia agar mengurangi kerja sama dengan Iran secara bertahap. Untuk imbal baliknya, Arab Saudi berjanji memberikan kontrak-kontrak menarik. Pada intinya, Rusia ditawari menjadi rekan Arab Saudi di Timur Tengah,” sebut harian itu.

Menurut pengakuan diplomat Arab Saudi kepada Kommersant, Arab Saudi tertarik membeli sistem pertahanan udara, beberapa helikopter, dan tank dari Rusia. ”Arab Saudi berusaha keras mendapatkan beragam jenis senjata,” kata Bandar setelah bertemu Putin.

Bandar, yang mengetuai Dewan Keamanan Nasional Arab Saudi dan juga mantan duta besar yang berpengaruh di AS, mengutarakan ajakan kerja sama dan kontrak itu ketika bertemu Medvedev dan Putin pekan ini. Arab Saudi, sekutu AS dan produsen minyak terbesar di dunia, dikabarkan waswas dengan ambisi Iran dalam mengembangkan pengayaan uranium. Seperti halnya negara-negara Barat, Arab Saudi juga khawatir Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.

Tanam pengaruh

Namun, Rusia berpendapat lain, mereka ingin memperbaiki dan meningkatkan hubungan dengan Iran. Rusia menegaskan, tak ada bukti sedikit pun Iran sedang mengembangkan senjata nuklir. Rusia tidak menginginkan ada konflik di kawasan. Jika terjadi konflik, kondisi keamanan Rusia juga terancam mengingat dekatnya perbatasan Rusia-Iran. Rusia juga tengah giat meningkatkan pengaruh di Timur Tengah.

Tahun lalu, Rusia membantu Iran membangun pusat pembangkit tenaga nuklir Iran yang pertama. Semasa masih menjabat Presiden, Putin berkunjung ke Riyadh dan Teheran. Kunjungan Putin menunjukkan hubungan yang makin dekat. Apalagi mengingat kunjungan Putin itu merupakan kunjungan pertama pemimpin Rusia ke Arab Saudi.

luk
Sumber : Kompas

MENJAWAB BERBAGAI FITNAH

 

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.”(Al-Hujurat:10)

 

Oleh itu umat Islam sewajarnya saling berkenal-kenalan

dan berlapang dada tentang perkara-perkara yang berbeza 

dalam sesuatu madzhab dalam Islam.

 

Intisari Persoalan:

 

 

1.        Syiah menyelewengkan al-Qur’an. 

 

Ulama Syiah dari dulu hingga sekarang menolak pendapat tentang berlaku penyelewengan dalam bentuk seperti berlaku perubahan/tahrif, lebih atau kurangnya ayat-ayat Qur an sama ada dari kitab-kitab Syiah atau Ahlul Sunnah. 

 

Mereka berpendapat jika hujah berlakunya perubahan ayat-ayat Qur an diterima maka Hadith sohih Nabi Muhammad SAW yang bermaksud, ” Aku tinggalkan kamu dua perkara supaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-Qur an dan Sunnah/Ahl Bayt,” tidak boleh dipakai lagi kerana al-Qur an yang diwasiatkan oleh Nabi SAW untukkumat Islam sudah berubah dari yang asal sedangkan Syiah sangat memberatkan dua wasiat penting itu dalam ajaran mereka.Lagi pun Hadith-hadith yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Syiah berkaitan dengan tahrif keatas al-Qur an yang berjumlah kira-kira 300 itu adalah Hadith-hadith dhaif. Begitu juga dalam kitab-kitab Sunnah seperti Sahih Bukhari turut menyebut tentang beberapa Hadith tentang perubahan ayat-ayat Qur an misalnya tentang ayat rejam yang dinyatakan oleh Umar al-Khattab, perbezaan ayat dalam Surah al-Lail dan sebagainya. Bukahkah Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an (Surah 15:9), yang bermaksud:” Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Zikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami memeliharanya.” Sekiranya seseorang itu menerima pendapat bahawa al-Qur’an telah diselewengkan oleh sesuatu golongan maka di sisi lain orang ini sebenarnya telah menyangkal kebenaran ayat di atas. Oleh itu semua pendapat tentang kemungkinan berlakunya tahrif dalam ayat-ayat Qur an  sama ada dari Syiah atau Sunnah wajib ditolak sama sekali.

Imam Ja’far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAWA [bermaksud]: 

 

“Setiap Hadith yang kamu 

terima dan bersesuaian 

dengan Kitab Allah

tidak diragukan datangnya 

daripada  aku 

dan Hadith-hadith yang 

kamu terima yang bertentangan

dengan Kitab Allah, 

sesungguhnya bukan datang daripadaku.”

[Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5]

 

2.       Nikah Muta’ah.

 

Berhubung dengan isu hangat iaitu Nikah Muta’ah yang dikaitkan dengan zina, pendapat ini menimbulkan kemusykilan yang amat sangat. Ini kerana menyamakan Muta ah Nikah dengan zina membawa maksud seolah-olah Nabi Muhammad SAWA pernah menghalalkan zina dalam keadaan-keadaan darurat seperti perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah. Pendapat ini tidak boleh diterima kerana perzinaan memang telah diharamkan sejak awal Islam lagi dan tidak ada rokhsah dalam isu zina.

 

Sejarah menunjukkan bahawa Abdullah bin Abbas diriwayatkan pernah mengharuskan Nikah Muta’ah tetapi kemudian menarik balik fatwanya iatu di zaman selepas zaman Nabi Muhammad SAWA. 

 

Kalau muta’ah telah diharamkan pada zaman Nabi SAWA adakah mungkin Abdullah bin Abbas mengharuskannya?

Sekiranya beliau tidak tahu [mungkinkah beliau tidak tahu?] tentang hukum haramnya muta’ah adakah beliau berani menghalalkannya pada waktu itu?

Fatwa Abdullah bin Abbas juga menimbulkan tandatanya kerana tidak mungkin beliau berani mengharuskan zina [muta'ah] dalam keadaan darurat seperti makan bangkai, darah dan daging babi kerana zina [muta'ah] tidak ada rokhsah sama sekali walaupun seseorang itu akan mati jika tidak melakukan jimak. Sebaliknya Abdullah menyandarkan pengharaman muta’ah kepada Umar al-Khattab seperti tercatat dalam tafsir al-Qurtubi meriiwayatkan Abdullah bin Abbas berkata, ” Sekiranya Umar tidak mengharamkan mutaah nescaya tidak akan ada orang yang berzina kecuali orang yang benar-benar jahat.” (Lihat tafsiran surah al-Nisa:24)

Begitu juga pengakuan sahabat Nabi SAW iaitu Jabir bin Abdullah dalam riwayat Sohih Muslim,

 

” Kami para sahabat di zaman Nabi SAW dan di zaman Abu Bakar melakukan muta ah dengan segenggam korma dan tepung sebagai maharnya, kemudian Umar mengharamkannya kerana kes Amr bin khuraits.”

 

Jelaslah muta ah telah diamalkan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW selepas zaman Rasulullah SAW wafat. Oleh itu hadith-hadith yang meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW telah mengharamkan muta ah nikah sebelum baginda wafat adalah hadith-hadith daif. 

Dua riwayat yang dianggap kuat oleh ulama Ahlul Sunnah iaitu riwayat yang mengatakan nikah muta ah telah dihapuskanpada saat Perang Khaibar dan pembukaan kota Mekah sebenarnya hadith-hadith yang daif. Riwayat yang mengaitkan pengharaman muta ah nikah pada ketika Perang Khaibar lemah kerana seperti menurut Ibn al-Qayyim ketika itu di Khaibar tidak terdapat wanita-wanita muslimah yang dapat dikahwini. Wanita-wanita Yahudi (Ahlul Kitab) ketika itu belum ada izin untuk dikahwini. Izin untuk mengahwini Ahlul Kitab seperti tersebut dalam Surah al-Maidah terjadi selepas Perang Khaibar. Tambahan pula kaum muslimin tidak berminat untuk mengahwini wanita Yahudi ketika itu kerana mereka adalah musuh mereka.

Riwayat kedua pula diriwayatkan oleh Sabirah yang menjelaskan bahawa nikah muta ah diharamkan saat dibukanya kota Mekah (Sahih Muslim bab Nikah Muta’ah) hanya diriwayatkan oleh Sabirah dan keluarganya sahaja tetapi kenapa para sahabat yang lain tidak meriwayatkannya seperti Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud? 

Sekiranya kita menerima pengharaman nikah muta’ah di Khaibar, ini bermakna muta’ah telah diharamkan di Khaibar dan kemudian diharuskan pada peristiwa pembukaan Mekah dan kemudian diharamkan sekali lagi. Ada pendapat mengatakan nikah muta’ah telah diharuskan 7 kali dan diharamkan 7 kali sehingga timbul pula golongan yang berpendapat muta’ah nikah telah di haramkan secara bertahap seperti mana pengharaman arak dalam al-Qur’an tetapi mereka lupa bahawa tidak ada ayat Qur’an yang menyebutkan pengharaman muta’ah secara bertahap seperti itu. Ini hanyalah dugaan semata-mata.

 

Yang jelas nikah muta’ah diharuskan dalam al-Qur an surah al-Nisa:24 dan ayat ini tidak pernah dimansuhkan sama sekali. Al-Bukhari meriwayatkan dari Imran bin Hushain: 

“Setelah turunnya ayat muta’ah, tidak ada ayat lain yang menghapuskan ayat itu. Kemudian Rasulullah SAW pernah memerintahkan kita untuk melakukan perkara itu 

dan kita melakukannya semasa beliau masih hidup. Dan pada saat beliau meninggal, 

kita tidak pernah mendengar adanya larangan dari beliau SAW tetapi kemudian ada 

seseorang yang berpendapat menurut kehendaknya sendiri.” 

 

Orang yang dimaksudkan ialah Umar. Walau bagaimanapun Bukhari telah memasukkan hadith ini dalam bab haji tamattu. 

 

Pendapat Imam Ali AS adalah jelas tentang harusnya nikah muta’ah dan pengharaman muta’ah dinisbahkan kepada Umar seperti yang diriwayatkan dalam tafsir al-Tabari:

 

“Kalau bukan kerana Umar melarang nikah muta’ah, maka tidak akan ada orang

 yang berzina kecuali orang  yang benar-benar celaka.” 

 

Sanadnya sahih. Justeru itu Abdullah bin Abbas telah memasukkan tafsiran (Ila Ajalin Mussama) selepas ayat 24 Surahal-Nisa bagi menjelaskan maksud ayat tersebut adalah ayat muta’ah (lihat juga Syed Sobiq bab nikah muta’ah).  Pengakuan Umar yang menisbahkan pengharaman muta’ah kepada dirinya sendiri bukan kepada Nabi SAWA cukup jelas bahawa nikah muta’ah halal pada zaman Nabi SAWA seperti yang tercatat dalam Sunan Baihaqi, 

 

” Dua jenis muta’ah yang dihalalkan di zaman Nabi SAWA aku haramkan 

sekarang dan aku akan dera siapa yang melakukan kedua

jenis muta’ah tersebut. Pertama nikah muta’ah dan kedua haji tamattu”.

 

Perlulah diingatkan bahawa keharusan nikah muta ah yang diamalkan oleh Mazhab Syi ah bukan bermaksud semua orang wajib melakukan nikah muta ah seperti juga keharusan kahwin empat bukan bermaksud semua orang wajib kahwin empat. Penyelewengan yang berlaku pada amalan nikah muta’ah dan kahwin empat bukan disebabkan hukum Allah SWT itu lemah tetapi disebabkan oleh kejahilan seseorang itu dan tidak dinafikan kelemahan akhlaknya sebagai seorang Islam. Persoalannya jika nikah muta’ah sama dengan zina, apakah bentuk muta’ah yang diamalkan oleh para sahabat pada zaman Nabi Muhammad SAW dan zaman khalifah Abu Bakar?[catatan: Nikah muta'ah memang tidak sama dengan zina]

 

3.       Syiah Kafir?

 

Dakwaan Syiah golongan kafir menimbulkan kemusykilan kerana pada setiap tahun orang-orang Syiah mengerjakan ibadat haji misalnya pada  tahun 1996, seramai 70,000 jemaah haji Iran mengerjakan haji. Oleh itu bagaimanakah boleh terjadi orang kafir (Syiah?) dibenarkan memasuki Masjidil Haram sedangkan al-Qur an mengharamkan orang kafir memasuki Masjidil Haram?

 

4.      Syi’ah  Yahudi?

 

Dakwaan Syiah adalah hasil daripada ajaran Yahudi dan Nasrani juga tidak dapat diterima oleh akal yang sihat. Sebagai contoh, pada masa ini pejuang Hizbollah (Syiah) berperang dengan Yahudi di Lebanon. Ramai yang gugur syahid. Semua orang tahun Israel memang takut dengan pejuang Hizbollah sebab itu mereka sengaja mengebom markas PBB pada tahun 1996 untuk menarik negara-negara barat mencari jalan menghentikan peperangan dengan  Hizbollah itu. Fakta Abdullah bin Sabak yang dikatakan pengasas ajaran Syiah adalah kisah hayalan sahaja.

 

Cerita Abdullah bin Sabak hanya dikutip oleh ahli-ahli sejarah seperti al-Tabari dari seorang penulis hayalan yang bernama Saif bin Umar al-Tamimi yang ditulis pada zaman Harun al-Rasyid. Jika seseorang itu meneliti hadith-hadith tentang kelebihan Ali atau hadith tentang Ali sebagai wasyi selepas Rasulullah SAWA yang dikatakan ajaran Abdullah bin Sabak – sebenarnya tidak terdapat riwayat yang mengutip dari Abdullah bin Sabak. Sebaliknya banyak hadith-hadith tentang kelebihan Ali datangnya dari Rasulullah SAWA. Umar bin al-Khattab pula sewaktu mendengar berita kewafatan Rasulullah SAWA enggan mempercayai kewafatan Rasulullah SAWA tetapi Umar percaya Rasulullah SAWA tidak wafat sebaliknya baginda SAWA pergi menemui TuhanNya seperti yang berlaku kepada Nabi Musa AS menghadap Tuhan selama 40 hari dan hidup semula selepas itu. Menurut Umar Rasulullah SAWA hanya naik ke langit.Lihat Tabari, Tarikh al-Muluk wal Umman, Jilid III,halaman 198]. Kisah seperti ini tidak ada dalam catatan Hadith-hadith Nabi SAWA tetapi mengapakah kita tidak menuduh Umar terpengaruh dari ajaran Yahudi?

 

5.    Syiah memaksumkan imam-imam mereka.

Mereka berhujah dengan ayat Quran 33:33 yang bermaksud: 

 

” Sesungguhnya Allah hendak mengeluarkan dari kalian  

kekotoran [rijsa] wahai Ahlul Bayt dan menyucikan kalian 

sebersih-bersihnya.”

 

Istilah Ahlul Bayt menurut Hadith Rasulullah SAWA merujuk kepada lima orang iaitu Rasulullah SAW, Fatimah, Ali, Hassan dan Husayn seperti yang diriwayatkan dalam Sohih Muslim. Perkataan rijsa[kekotoran] sudah tentu bukan kotor dari segi ain seperti najis dan sebagainya tetapi merujuk kepada dosa-dosa dan apabila Allah ‘hendak secara berterusan’ [yuridu] menyucikan mereka sebersih-bersihnya tidak boleh diragukan lagi ia merujuk kepada penyucian total dari sebarang dosa yang dalam istilah lain bermaksud mereka adalah maksum.

Tambahan pula banyak ayat-ayat Qur an yang menjelaskan perintah Allah SWT supaya manusia berbuat maaruf dan meninggalkan perbuatan dosa.  Apabila Allah SWT memerintah manusia berbuat maaruf dan meninggalkan dosa sudah tentu Allah SWT tahu bahawa manusia itu memang mampu meninggalkan dosa kerana Allah SWT tidak akan membebankan manusia dengan suatu perintah yang manusia tidak mampu buat. 

Oleh itu sekiranya Syiah mengatakan imam mereka maksum iaitu tidak berbuat dosa serta Allah SWT memelihara mereka daripada perbuatan dosa berdasarkan Surah 33:33 itu, adakah ia bercanggah dengan al-Qur an? Adakah  mereka yang  tidak maksum layak menduduki maqam Imam ummah? 

 

5.       Syiah didakwa mengkafirkan para sahabat Nabi SAWA.

 

Syiah mendiskreditkan sahabat-sahabat “besar” Nabi SAWA seperti Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dalam gua ketika peristiwa hijrah dan merupakan khalifah yang pertama. Begitu juga Umar al-Khattab adalah sahabat Nabi SAWA dan khalifah kedua.

 

Sesiapa yang mencaci sahabat digolongkan sebagai kafir serta terkeluar dari Islam (Nabi SAW menyatakan sesiapa yang mencaci seorang muslim adalah fasiq dan membunuhnya adalah kafir[Sahih Bukhari, Jilid I Hadith 48]).[Nota: Syi'ah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi SAWA tetapi menunjukkan perbuatan mereka yang menyalahi al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAWA seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai setengah sahabat dengan neraca al-Qur'an dan Hadith Nabi SAWA.] Dan jangan lupa! Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda bahawa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah].Istilah sahabat telah digunakan dalam al-Qur an untuk Abu Bakar dan ini menunjukkan beliau terjamin masuk syurga dan tidak melakukan kesalahan. 

 

Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Sila baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara[nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara]). Memang Nabi Muhammad SAWA mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil “sahabat” oleh Nabi SAWA seperti Abdullah bin Ubay bin Salool. Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahawa ada segolongan “sahabat” yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad SAWA di al-Haudh. Nabi SAWA memanggil mereka dengan istilah ‘ashabi’ [sahabatku]. Sila rujuk Sahih Bukhari[Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96];Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.] Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri?

Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi SAWA pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah SAWA bersabda [terjemahan]:…Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka.” [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462].

 

Al-Qur’an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri – pada ketika itu ialah Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur’an dan tidak boleh dikritik? 

Kita ikuti sahabat yang baik dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur’an dan Hadith Nabi SAWA.Sejarah menunjukan bahawa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat iaitu menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar kerana minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari.

Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahawa semua sahabat adalah ‘adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencari Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi SAWA? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi SAWA wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain daripada yang telah ditetapkan oleh Rasulnya?

Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,bermaksud:

 

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh oleh api neraka…”

 

Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard "adil"atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada sesiapa pun dikecualikan hatta para "sahabat" sekalipun].Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia – yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka.

 

Ini bermakna istilah “sahabatku”dalam Hadith Nabi SAWA tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida' iaitu seramai 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAWA [terjemahan]:” Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA.”[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889]. Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang engkar mengikut perintah Nabi SAWA terutamanya selepas Nabi SAWA wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi SAWA] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi SAWA bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]:

“Cintailah Allah kerana nikmat-nikmatnya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku kerana cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku kerana cinta kepadaku.”

 

Oleh itu sesiapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah SAWA dan Allah SWT.  Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur’an? 

“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim.”[Qur'an: 11: 18]

 

6.       Golongan Syiah sering didakwa bukan mengikuti ajaran Ahlul Bayt

        Nabi Muhammad SAWAW. 

 

Imam Ja far al-Sadiq bukan Syiah tetapi Ahlul Sunnah. Sebaliknya semenjak kita belajar Ahlul Sunnah nama Imam Ja far al-Sadiq tidak  dikenal langsung tetapi golongan  Syiah sering mengutip hadith-hadith dari beliau dalam pelbagai aspek ajaran Islam.  Malahan semua sarjana fiqh bersepakat bahawa Jaafar al-Sadiq pengasas fiqh Madzhab Syiah Jaafariyyah. Oleh itu dakwaan di atas dibuat atas dasar emosi dan tidak berasaskan akademik.

 

7.        Syiah percaya kepada kepada al-Bada.

 

Tuduhan: Ilmu Allah Berubah-ubah Mengikut Sesuatu Peristiwa Yang Berlaku Kepada Manusia (al-Bada’).

 

Ulama Syiah tidak pernah menganggap Allah tidak mengetahui seperti tuduhan-tuduhan yang sengaja menyelewengkan maksud sebenar.

Al-Bada’ tidak bermaksud kejelasan yang sebelumnya samar dinisbahkan kepada Allah SWT. 

Al-Bada’ yang difahami oleh ulama Syiah ialah adalah Allah berkuasa mengubah sesuatu kejadian dengan kejadian yang lain seperti nasikh dan mansukh sesuatu hukum syariah yang tercatat dalam al-Qur’an tetapi al-Bada’ menyangkut tentang sesuatu kejadian [takwini] seperti hidup dan mati dan seumpamanya.
Misalnya kisah penyembelihan Nabi Ismail AS tetapi kemudian Allah Azza Wa-Jalla menggantikannya dengan seekor kibas. 

 

Alllah SWT berfirman dalam al-Qur’an 13:39 yang bermaksud:

” Allah menghapus apa yang Ia kehendaki dan menetapkan 

[apa yang Ia kehendaki] dan  di sisinya terdapat Umm al-Kitab [Lauh al-Mahfuzh].” 

 

Sebuah hadith yang dipetik dari al-Kulaini dalam Kitabul Tauhid, Usul al-Kafi, hadith 373.

Maksudnya:”Allah tidak menerbitkan [bada'] 

pada sesuatu melainkan ianya berada 

dalam ilmuNya sebelum [Allah menetapkan] berlakunya [bada' tersebut].”

Hadith 374 menegaskan bahawa:

Maksudnya:” Sesungguhnya Allah tidak menerbitkan Bada’ 

daripada kejahilan[Nya]“.

 

Syeikh al-Mufid menulis dalam bukunya Awail Maqalat: ” Apa yang saya fatwakan tentang masalah al-bada’ ialah sama dengan pendapat yang diakui oleh kaum muslimin dalam menanggapi masalah nasakh [penghapusan] dan sebagainya seperti memiskinkan kemudian membuat kaya, mematikan kemudian menghidupkan dan menambah umur dan rezeki kerana ada sesuatu perbuatan yang dilakukan. Itu semua kami kategorikan sebagai bada’ berdasarkan beberapa ayat dan nas-nas yang kami dapatkan dari para Imam.”

 

8.       Syiah mengamalkan Taqiyah.

 

Mereka mendakwa taqiyyah bermaksud berpura-pura dan sinonim dengan perbuatan golongan munafiq. Syeikh Muhammad Ridha al-Muzaffar menulis dalam bukunya Aqidah Syiah Imamiyyah:

“Taqiyah merupkan motto Ahlul Bayt AS bermotifkan untuk melindungi agama, diri mereka dan pengikut mereka dari bencana dan pertumpahan darah, untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin serta penyelarasan mereka, dan memulihkan ketertiban mereka.”

 

Mengikut Alamah Tabatabai’ dalam bukunya Islam Syiah bahawa sumber amalan taqiyah ini merujuk juga kepada al-Qur’an seperti Surah 3:28, yang bermaksud:

 

“Jangan sampai orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir 

sebagai teman-teman mereka selain orang-orang beriman.

Barang siapa yang melakukan hal itu maka tidak ada pertolongan dari Allah

kecuali untuk menjaga diri terhadap mereka [orang-orang kafir]

dengan sebaik-baiknya. Allah memperingatkan kalian [agar selalu ingat] kepadaNya. 

Dan kepada Allahlah kalian kembali.”

 

Ungkapan menjaga diri terhadap orang-orang kafir dengan sebaik-baiknya diterjemahkan dari tattaquu minhum tuqatan dan kata tattaquu dan tuqatan mempunyai akar kata yang sama dengan taqiyah.

Ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan peristiwa taqiyah Amar bin Yasir yang mencari perlindungan dengan mengaku kafir di hadapan musuh-musuh Islam iaitu dalam Surah 16:106:

Maksudnya:”…..”kecuali orang yang terpaksa, padahal hatinya tetap  tenang dalam beriman…”

 

Jelaslah bahawa taqiyah bukan membawa maksud berpura-pura seperti mana yang sering didakwa oleh orang yang berpura-pura berilmu pengetahuan tetapi sarat dengan kejahilan dan niat yang buruk.

 

9.       Mengapa Syi’ah sujud di Tanah Karbala? 

 

Soal mengapa pengikut Syi’ah bersujud di atas tanah Karbala tidak bercanggah dengan mana-mana hukum fiqh dari semua madzhab. 

Solat adalah perbuatan ibadah yang cara-caranya terikat kepada amalan Rasulullah SAWA. Kaedah ini diterima oleh semua madzhab dan tidak ada sesiapa berani mempertikaikannya ataupun dia akan terkeluar dari senarai “Muslim”.

Hadith Nabi SAWA yang mulia menjelaskan tentang cara-cara bersujud seperti yang tercatat dalam Sahih Muslim, misalnya hadith nombor 469, [terjemahan]….

Dan di mana saja kamu berada, jika waktu solat telah tiba, maka solatlah, 

kerana bumi ialah tempat bersujud (masjid) 

 

atau hadith nombor 473, [terjemahan]


“….Bumi dijadikan suci bagiku


[nota: misalnya debu tanah boleh digunakan untuk bertayammum] 

dan menjadi tempat sujud [wa ju'ilat ila-l-ardh tuhura wa-masjidan].

Dan memang orang-orang Syi’ah mengikut contoh Imam-imam mereka seperti Imam Ali Zainal Abidin AS dan seterusnya, yang meletakkan tanah Karbala sebagai tempat untuk bersujud.

Yang patut diingatkan bahawa Syi’ah tidak sujud kepada tanah Karbala. [nota: perbuatan ini tentunya syirik] tetapi di atas tanah Karbala untuk merendahkan diri di hadapan Allah SWT.Imam Ja’far al-Sadiq AS ketika ditanya perkara tersebut berkata [bermaksud]:

….kerana sujud adalah untuk merendahkan diri di hadapan Allah, 
oleh itu adalah tidak wajar seseorang itu bersujud  di atas benda-benda yang dicintai oleh manusia di dunia ini.”

[Wasa'il al-Syi'ah,  Juzuk III, hlm.591]

Dalam hadith yang lain Imam Ja’far al-Sadiq AS menjelaskan bahawa:
“Sujud di atas tanah lebih utama kerana lebih sempurna  dalam merendahkan diri 
dan penghambaan di hadapan Allah Azza Wa-Jalla.”
[Al-Bihar, Juzuk, 85, hlm.154]

 

 

 

 

 

 

10.    Mengapa Syi’ah tidak boleh menerima Madzhab Ahlul Sunnah Wal-Jama’ah? 

 

As-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-’Amili seorang ulama Syi’ah dengan tegas menjelaskan:

 

“ Bila dalam kenyataannya kami kaum Syi’ah tidak berpegang kepada Madzhab Asy’ari dalam hal usuluddin dan madzhab yang empat dalam cabang syari’at, maka ini sekali-kali bukan kerana kami taksub; bukan pula kerana meragukan usaha ijtihad para 

tokoh-tokoh madzhab tersebut. Dan juga bukan kerana kami menganggap mereka itu 

tidak memiliki kemampuan, kejujuran, kebersihan jiwa atau ketinggian ilmu dan amal, 

tetapi sebabnya ialah bahawa dalil-dalil syari’ah telah memaksa kami untuk berpegang hanya 

kepada madzhab Ahlul Bayt AS, ahli rumah Rasulullah SAWA, pusat Nubuwwah dan Risalah, 

tempat persinggahan para malaikat, dan tempat turunnya wahyu al-Qur’an. Maka hanya dari merekalah kami mengambil cabang-cabang agama dan aqidahnya, usul fiqh dan kaedahnya.

Pengetahuan tentang al-Qur’an dan al-Sunnah. Ilmu-ilmu akhlak, etika dan moral. 

Hal itu semata-mata kerana tunduk pada hasil kesimpulan dalil-dalil dan bukti-bukti. 

Dan sepenuhnya mengikuti petunjuk dan jejak penghulu para Nabi, Rasulullah SAWA.”

 

[As-Syarafuddin al-Musawi,al-Muruja'at (Dialog Sunnah-Syi'ah, Penerbit Mizan,hlm.17-18]

 

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata: 


“Hadith-hadith yang aku riwayatkan  adalah dari ayahku.  Dan semua hadith tersebut 
adalah riwayat dari datukku. Dan semua riwayat datukku  adalah dari hadith datukku al-Husayn AS.  Dan semua riwayat al-Husayn AS  adalah dari hadith al-Hasan AS.  Dan semua hadith al-Hasan AS  dari datukku Amirul Mu’minin Ali AS;  dan semua hadith Amirul Mu’minin Ali AS 
adalah dari hadith Rasulullah SAWA.  Dan hadith-hadith Rasulullah SAWA 
adalah Qaul Allah Azza Wa-Jalla.”
[Al-Kulaini,al-Kafi, Juzuk I, hadith 154-14]

 

Bagi Syi’ah, tidak ada dalil bagi seseorang itu untuk menerima selain dari Mazhab Ahlul Bayt AS kerana perkara itu telah diputuskan oleh Allah SWT.

 

11.      Imam Mahdi AS hidup lebih 1000 tahun

 

Mereka mendakwa kepercayaan bahawa Imam Mahdi AS masih hidup sejak peristiwa ghaib kubra pada tahun 329H adalah sesuatu kepercayaan yang karut. Mengapakah mereka lupa bahawa Allah SWT telah menghidupkan nabi-nabi terdahulu dengan umur yang panjang seperti Nabi Nuh AS dan Nabi Adam AS? Malahan umat Islam percaya Nabi Isa AS masih hidup hingga kini sejak beliau diangkat ke langit oleh Allah SWT dalam peristiwa beliau diselamatkan dari pembunuhan pengikut-pengikutnya. Ini bermakna beliau as telah hidup lebih seribu tahun. Pemuda-pemuda Ashabul Kahfi di bangkitkan oleh Allah SWT setelah ditidurkan dengan begitu lama. Begitu juga umat Islam percaya Nabi Khidir as masih hidup hingga kini. Malahan syaitan la’natullah alahi masih hidup sejak makhluk ini engkar kepada Allah SWT. Ini bermakna syaitan telah hidup lebih lama dari 1,000 tahun. Tidakkah kisah-kisah ini menunjukkan bahawa umur panjang bagi Imam Mahdi AS bukanlah sesuatu yang mustahil kerana Allah SWT Maha Berkuasa bagi perkara yang sekecil itu.

 

12.    Aqidah Raja’ah

 

Al-Allamah al-Safi menjawab tentang masalah rajaah seperti berikut: ” Qaul tentang raja’ah itu merupakan qaul dari itrah Rasulullah SAWA yang suci. Perbahasan tentang masalah ini telah beredar dikalangan mereka dan selain dari mereka. Pedoman mereka dalam masalah ini adalah ayat-ayat Qur’an dan hadith-hadith yang mereka riwayatkan dengan sanad yang turun temurun dari datuk-datuk mereka sampai kepada datuk Rasulullah SAWA.

Kenyataan yang tidak mungkin diingkari oleh para peneliti masalah-masalah keislaman adalah bahawa sumber aqidah raja’ah itu adalah imam-imam Ahlul Bayt AS yang telah ditetapkan kewajipan berpegang teguh kepada mereka dengan keterangan dari hadith al- tsaqalain dan lain-lainnya.

 

Pihak syiah mengatakan tentang raja’ah secara global. Mereka membandingkan hal ini dengan kejadian-kejadian para ummah terdahulu seperti yang diceritakan oleh Allah Ta’ala dalam firmanNya, yang bermaksud:” Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-beribu (jumlahnya) kerana takut; maka Allah berfirman kepada mereka:” Matilah kamu,” kemudian Allah menghidupkan mereka (kembali)…(Al-Baqarah:243).

Ayat yang lain, bermaksud:” Atau apakah (kamu tidak memerhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atasnya. Dia berkata:” Bagaimanakah Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah ia roboh?” Maka Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali….(Al-Baqarah:259)

Dan boleh juga mengambil teladan dari firman Allah Ta’ala dalam ayat berikut yang bermaksud:” Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada pada dirinya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami melipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al-Anbiya:84)

Mereka golongan syiah mengatakan bahawa hal itu tidak mustahil akan terjadi kepada umat ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

Maksudnya:” Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibahagi-bahagikan (dalam kelompok-kelompok).” (Al-Naml:83)

Hari yang disebutkan Allah SWT dalam ayat di atas, tentu bukan Hari Qiamat, karena pada Hari Qiamat Allah membangkitkan semua umat manusia, sebagaimana yang difirmankanNya dalam ayat berikut:

Maksudnya:” Dan Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (Al-Kahfi:47)

 

Dalam dua ayat di atas, Allah SWT menyatakan bahawa Hari Kebangkitan itu ada dua. Kebangkitan umum dan kebangkitan khusus. Hari yang dibangkitkannya segolongan orang-orang dari tiap-tiap umat itu bukan Hari Qiamat, jadi ia tidak lain adalah Yaumul Raja’ah.

Adapun tentang perincian Yaumul Raja’ah itu tidak ada hadith-hadtih sahih yang menyatakannya. Hadith-hadith yang menyebutkan tentang perincian Yaumul Raja’ah adalah hadith-hadith dhaif sama ada dari segi dalalahnya ataupun sanadnya. Pendapat ini juga dinyatakan oleh Lutfollah Saafi Golpayegani dalam bukunya yang bertajuk “Aqidah Mahdi dalam Syi’ah Imamiyyah” menyatakan bahawa hadith-hadith perincian tentang Yaumul Raja’ah adalah hadith-hadith dhaif dan ditolak oleh ulama hadith syi’ah. Aqidah Raja’ah mempunyai asas ajaran dalam al-Qur’an dan dinyatakan oleh para Imam Ahlul Bayt AS, oleh itu adakah wajar kita menolaknya?

 

13.     Isu-isu al-Qur’an, Mushaf, dan Wahyu kepada Fatimah AS

 

Apabila dibicarakan tentang persamaan antara sunnah dan syiah bererti di situ pasti ada perbedaannya. Permasalahannya apa bila ada perbedaan, apakah pegangan kepada satu mazhab menjadi penilai kebenaran dalam mengukur mazhab yang lain? atau di kembalikan kepada Al Quran dan hadis dan mengukurnya secara rasional yang bebas dari keta,suban bermazhab?

Tuduhan terhadap syiah bukan satu yang baru dan sepertinya tidak akan berahkir. Setelah membaca banyak buku2 yang menyalahkan syiah, kami melihat hal ini disebabkan oleh beberapa perkara. 1- Menilai kebenaran berdasarkan mazhab tertentu. 2- Menafsir sendiri riwayat syiah tanpa melihat penfsiran ulamak syiah tentang hadis tersebut, sehingga makna yang diambil berdasarkan selera sendiri. 3- Mengambil kata-kata ulama sebagai sandaran tanpa menilai kembali pandangan mereka dan suasana mereka mengeluarkan fatwa. 4- Menukilkan hadis separuh separuh hingga menyebabkan maknanya berubah. 5- Menanggap apa saja yang tertulis dalam kitab-kitab hadis muktabar syiah itu sahih sebagai mana Ahlu suunah menanggap semua yang ada dalam Bukhari itu sahih.

 

Kami berterima kasih kepada penulis ABC kerana komennya atas rencana ‘persamaan dan perbezaan antara sunnah dan syiah’. Izinkan kami di sini untuk mengomentar kembali tilisannya berdasarkan ukhwah islamiah dan perbahsan ilmiah tulen yang menjadi pemangkin kepada pendekatan antara mazhab2 islam untuk saling mengenali hingga tidak tibul tuduhan2 liar.

1- Al Quran

 

a- makna mushaf Kebanyakan umat Islam menanggap bahawa perkataan ‘mushaf’ itu senonim

‘Al Quran’. Sedangkan dalam lisan Al Quran dan hadis Rasul tidak sedemikian. Mushaf itu artinya kumpulan tulisan dan selepas wafat Rasul digunakan untuk ayat2 al quran dikumpulkan oleh para sahabat dan juga tulisan2 hadis.

Oleh itu jika ada perkataan mushaf dalam riwayat syiah jangan terus menanggap ia adalah Al Quran. Penulis ABC juga ada menungkilkan riwayat dari Al Kafi yang menunjukan bahawa mushaf Fatimah bukan Al Quran tetapi kumpulan khabar yang di sampaikan oleh Jibril.

b- Wahyu untuk Fatimah as. Persoalannya di sini apakah ia mungkin atau tidak? Pertama kita perlu mengenal maqam Fatimah as. terlebih dahulu. Tiada siapa yang mengingkari bahawa ia adalah penghulu wanita sekian alam, yang paling mulia antara 4 wanita yang termulia.

Kedua apakah Jibril boleh menurunkan wahyu untuk selain nabi. Yang mengatakan tidak bererti ia jahil tentang Al Quran. Dalam surah Ali Imran ayat 42 hingga 45 menceritakan pembicaraan jibril dengan Mariam. Dan Fatimah as. lebih mulia dari Mariam. Riwayat tentang turunnya Jibril pada Fatimah banyak dalam kitab-kitab syiah. Sudah tentu mereka yang menjauhinya tidak akan meriwayatkan peristiwa tersebut.

 

14.  Mazhab Ahlu Sunnah

 

a. Seperti penulis ABC setuju bahawa mazhab ahlu sunnah terbentuk secara evolusi. Malah pengikutnya hari ini pun tidak mengamalkan fatwa Imam2 mereka baik dari segi fikah maupun akidah secara tulen. Tetapi permasalahnnya bukan di sini tapi pada sumber hukum. Mereka mengenepikan Imam2 Ahlu Bait as. baik dalam fikah maupun akidah. Bagaimana hati boleh aman dengan apa yang di amalkan sedangkan bahtera penyelamat umat Muhammad SAWA ditinggalkan. Bukankah mereka sebagaimana sabda Ar Rasul SAWA. Umpama ahlu baitku di dalam umatku seperti bahtera Nuh siapa yang menaikinya selamat siapa yang meninggalkannya akan tenggelam.

b. Para pemerintah yang zalim ketika itu mengambil kesempatan untuk menyebarkan fatwa para mujtahid tersebut dan menakutkan orang ramai dari mendekati Imam-imam ahlul- bait dan ulama mereka.

c. Penutupan pintu ijtihad oleh khalifah yang zalim bukan satu yang pelik tetapi yang pelik adalah  apabila para ulama besar ahlu sunnah juga merelakan hal ini seperti Al Ghazali, Sayuti. Ibnu Hajar dll dan akhirnya percobaan membuka pintu ijtihad dianggap dosa besar sebagaimana penulisan hadis pada kurun pertama hijrah dan tidak melaknat Imam Ali pada hari jumaat pada 80 tahun pertama pemerintahan bani umaiyah. Sedangkan proses ijtihad terus subur dalam mazhab syiah dan tidak timbul kekalutan dalam permasalahan mujtahid palsu. Dan para muqalid sentiasa bertaqlid kepada mujtahid yang hidup pada setiap waktu.

 

15.     Ahlul Sunnah Wa l-Jama’ah Dan Ahlu Bait AS

 

 Syiah menerima bahawa ahlu sunnah mencintai dan memuliakan ahlu bait, tetapi apakah mereka benar-benar meletakan ahlu bait pada posisi yang Allah SWT telah letakan? Apakah tiada hikmah mengapa mereka disucikan dan diwajibkan kecintaan ke atas mereka dan solat dan selawat tidak diterima tanpa menyebut mereka.

Jika ahlu sunnah benar2 menghormati mereka sepatutunya mereka juga perlu menghormati orang-orang yang mengikuti mereka, bukan menuduh dengan hal2 yang tidak benar. Kita diwajibkan untuk mengikuti Al Quran, apakah tidak wajib kita mengikuti mereka yang disucikan untuk menjaga Al Quran dan mendampingi Al Quran.

 

16.    Ilmu Para Imam AS

 

Hadis dari Imam Jaffar as Sadeq itu jelas menunjukkan, ilmu yang mereka miliki adalah kurnia Allah bukan mereka memiliki dengan sendiri, kerana ini akan mendatangkan syirik.

Di dalam surah yunus ayat 20 dan an An’am jelas menunjukan bahawa yang mengetahui hal yang ghaib itu hanya Allah. Dan dalam surah az zhuruf ayat 4, al Buruj ayat 22, ar radh ayat 39, menunjuk bahawa ilmu Allah itu terletak di kitab almknun, kitabun mubin, umul kitab, luh mahfuz. Ia juga dipanggil Imamul mubin “kulu sha’ain ahsaina hu fi Imamul mubin” walau namanya berbeza ia memiliki hakikat yang sama iaitu khazahna ilmu Allah yang Allah berikan kepada orang2 yang tertentu (surah aj jin ayat 27) dan tidak akan menyentuhnya kecuali yang disucikan (al waqih’ah ayat 79) dan kita semua tahu yang disucikan hanya ahlu bait (al ahzab ayat 33)

 

Jadi jika ada yang masih tidak faham yang ahlu bait mengetahui yang ghaib atas izin Allah dengan mengunakan dalil-dalil Al Quran yang jelas bererti orang tersebut mahu meletakan dirinya pada jalan kedegilan dan ketasuban.

 

18.  Maqam Para Imam AS

 

a. Di dalam Al Quran membicarakan tugas para Rasul hanya sebagai hanya untuk menyampaikan sahaja (iblaq) dan tidak lebih dari itu. “ma ala Rasul ilal balaq” dan juga surah An Nissa, ayat 165 dan As Syura, ayat 3 dll.

Selain dari itu ada ayat2 yang membicarakan satu lagi maqam selain maqam Rasul dan memiliki tugas yang lain dengan tugas rasul iaitu maqam Imam ‘kami jadikan mereka Imam untuk memberi hidayah dengan urusan kami ketika mereka bersabar dan yakin dengan ayat2 kami’ surah as sajadah ayat 24.

 

Ayat di atas jelas menunjukkan sebahagian Rasul di angkat menjadi Imam, satu maqam yang lebih tinggi dari maqam Rasul. Tugas Imam di sini berbeda dengan tugas Rasul iaitu sebagai pemberi hidayah.

 

Nabi Ibrahim sebagaimana dalam surah al Baqarah ayat 124 diangkat menjadi Imam selepas ia menjadi Rasul. Jelas di sini menunjukan maqam Imam lebih tinggi dari maqam Rasul. Persoalanya sekarang apakah maqam Imam ini berterusan? Sudah tentu selagi manusia wujud di atas muka bumi ini selagi itu manusia perlu kepada hidayah dan ini tugas Imam. Dalam surah di atas Allah juga mengangkat zuriah Ibrahim sebagai Imam sebagimana Ibrahim.

Dalam surah Ar Radh, ayat tujuh, Allah SWT. berfirman “Sesungguhnya kau (Muhammad) pemberi peringatan dan untuk setiap kaum ada yang memberi hidayah”

Kami ulangi lagi bahawa tugas memberi hidayah adalah tugas Imam dan hanya Allah yang melantik Imam bukan manusia. Dan ayat ini jelas menunjukan Imam yang dilantik oleh Allah itu berterusan dan maqamnya lebih tinggi dari maqam Rasul. Apakah kita lupa pada satu hadis yang mahsyur yang bermaksud “ulama umatku lebih afdhal dari para nabi bani israel” atau kita menanggap hadis ini daif. Atau hadis yang mengatakan bahawa Nabi Isa as. akan solat dibelakang Imam Mahdi juga tidak benar?
Rujuk hadith [Sahih Muslim Kitabul Iman Hadith 0293], dari laman [http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/muslim/001.smt.html#001.0293] petikan dalam Bahasa Inggeris seperti berikut: “Jabir b. ‘Abdullah reported: I heard the Messenger of Allah (may peace be upon him) say: A section of my people will not cease fighting for the Truth and will prevail till the Day of Resurrection. He said: Jesus son of Mary would then descend and their (Muslims’) commander would invite him to come and lead them in prayer, but he would say: No, some amongst you are commanders over some (amongst you). This is the honour from Allah for this Ummah.” Lihat juga Sahih al-Bukhari, Arabic-English, v4, Tradition #658,”The Prophet (PBUH&HF) said: “What would be your situation if the Son of Marry (i.e. Jesus) descends upon you and your Imam is among you?”. Maksudnya: Apakah yg akan kamu lakukan apabila Nabi Isa A.S turun kpd kamu dan ketika itu Imam (pemimpin) kamu adalah di antara kamu juga?” Malangnya rujukan internet dari laman

 

 http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/055.sbt.html telah diubah

 

 terjemahannya dari teks arabnya kepada berikut:” Allah’s Apostle said “How will you be when the son of Mary (i.e. Jesus) descends amongst you and he will judge people by the Law of the Quran and not by the law of Gospel (Fateh-ul Bari page 304 and 305 Vol 7).”
Ini teks arabnya yang asli rujukan dari Sahih al-Bukhari, Al-Bukhari, Muhammad b. Isma`il (d. 256 AH), volume 4, page 437, hadith number 658 Pakistan: Sethi Straw Board Mills (Conversion) Ltd (9 vols), translated by Muhammad Muhsin Khan, 1971 CE :

b. Apakah pelik apabila kita mengatakan para Imam itu lebih mulia dari Malaikat sedangkan Abu Basyar Adam as. merupakan khalifah pertama dari sekian kahlifah Allah mendapat didikan langsung dari Allah (syarat khalifah Allah) dan menjadi guru kepada para Malaikat dan menjadi sujutan Malaikat, apakah ini tidak menunjukan bahawa maqam insan lebih mulia dari maqam malaikat? apakan lagi maqam imam. Apakah ini bererti mendewakan mereka atau meletakan mereka pada tempat yang sewajarnya?

 

Apakah menjadikan semua sahabat itu adil dan tidak boleh disentuh dan dikritik bukan pendewaan? Dan bila keisalaman dan kekufuran seseorang diukur dengan sahabat? Apakah ini bukan pendewaan terhadap mereka? Apakah segala perubahan yang dilakukan oleh khalifah pertama, kedua, ketiga tidak mengubah hukum Allah? Dan apabila menerima perbuatan mereka dan menolak hukum Allah bukan pendewaan?

 

19.  Maqam Imam ‘Ali AS

 

Mereka menyatakan Syiah mempercayai Saidina Ali as separuh Tuhan, menganggap guruh dan petir itu suara Ali,mempercayai imam-imam 12 itu lebih baik dari para malaikat yang muqarrabun kepada Tuhan, menggunakan mushaf al-Quran lain dari mushaf Uhtman dan lain-lain.

Di dalam Usul al-Kafi oleh al-Kulaini adalah dilapurkan bahawa Abu Basir seorang kepercayaan Imam Jaafar telah datang berjumpa dengan Imam Jaafar. Abu Basir bertanya kepada Imam Jaafar berhubung dengan ilmu dan kelebihan Saidina Ali dan imam imam syiah… didalam buku tulisan Al Kualaini tersebut Imam Jaafar telah dikatakan menjawab sedemikian..

” Kita juga ada Mushaf Fatimah dan apakah yang orang ramai tahu tentang Mushaf Fatimah ? Ianya adalah sebuah Mushaf yang tiga kali lebih besar dari Al Quraan dan tidak ada satu ayat Al Quraan mereka didalam nya. (Usul al-Kafi oleh al-Kulaini ms 146)

Seterusnya Imam Jaafar bila ditanya lagi oleh Abu Basir berhubung dengan Mushaf Fatimah , Abu Basir menyatakan Imam Jaafar menyebut : ” Apabila Allah menaikkan Rasul Nya dari dunia (wafat) … Fatimah menjadi terlalu sedih yang teramat sangat dan berduka cita yang hanya diketahui oleh Allah saja. Allah kemudian menurunkan malaikat untuk memujuknya semasa kesedihan tersebut dan malaikat tersebut telah berbual bual dengan Fatimah. Fatimah menceritakan peristiwa tersebut kepada Ali dan Ali meminta Fatimah memberitahunya apabila malaikat tersebut datang. Setiap kali malaikat datang Ali telah mencatatkan segala gala yang disebut oleh malaikat tersebut… dan Inilah yang di panggil mushaf Fatimah. Usul al-Kafi oleh al-Kulaini ms 147) Al Kulaini seterusnya didalam kitab yang sama menyatakan bahawa Jabir Al Jufi berkata “aku telah mendengar Muhammad Al Baqir berkata ” Seseorang tidak akan mengatakan bahawa Al Quraan telah diturunkan sekelompok kecuali dia itu pendusta. Tiada seorang pun yang mengumpul dan menghafal semuanya yangt di turunkan Nya kecuali Abi bin Abi Talib dan para pengikut sesudahnya. ” [muka surat 228]

 

20.  Syiah Menyembunyikan Kitab-kitab Mereka?

 

“Sebagai satu ajaran yang telah lama bertapak, Syi`ah mempunyai rujukan-rujukan sendiri yang muktabar. Bagaimanapun sudah menjadi polisi kepada mereka untuk tidak membiarkan kitab-kitab mereka jatuh kepada orang lain oleh kerana itu, mereka menyembunyikannya. Malahan rujukan mereka itu hanya dibaca oleh Ayatullah-Ayatullah sahaja. Adapun Syi`ah yang tidak menjangkaui martabat tersebut tidak layak untuk membacanya sehingga mereka mendakwa orang-orang yang bertaqwa sahaja yang berhak. Alangkah malang sungguh mereka yang menerima ajaran Syi`ah tetapi tidak dapat menatapi sabdaan-sabdaan para Imam. Kitab-kitab berautoriti seperti al-Kafi karangan al-Kulaini, al-Istibsar, Tahzib al-Ahkam dan Man layahduruhu hanya bacaan para Ayatullah sahaja”[lihat: Apa Beza Syiah dan Yahudi?.

Dakwaan ini tidak benar sama sekali, kerana pada hari ini kitab-kitab syiah telah banyak disiarkan dalam internet termasuklah kitab-kitab hadith dan tafsir al-Qur'an seperti al-Kafi, Biharul Anwar, al-Istibsar, tahdzib al-ahkam, Man layahduruhu ila faqih, al-Mizan fi tafsir dan sebagainya. Sesiapa pun boleh membacanya. Silalah ke laman al-shia.com alhikmeh.com, Rafed.net dan sebagainya.

 

Komentar

 

Kesimpulan dari para para diatas… bagaimana mungkin seorang ahli sunnah tidak menyatakan keheranan nya diatas isu adanya orang orang syiah yang berfahaman ujudnya satu kitab Al Quraan yang selain nya dari mushaf Othman…. Apabila perkara sedemikian memang tertulis didalam salah sebuah kitab pokok rujukan Syiah iaitu Usul al-Kafi oleh al-Kulaini.

Nota: Permasalahannya ialah pihak Ahlul Sunnah tidak dapat membezakan antara hadith yang sahih atau sebaliknya dalam kitab-kitab Syiah. Menurut Imam Ja'far al-Sadiq AS hadith yang bercanggah dengan al-Qur'an hendaklah ditolak samasekali. Imam Ja'far al-Sadiq AS meriwayatkan sebuah Hadith dari datuknya Rasulullah SAWA [bermaksud]: ” Setiap Hadith yang kamu terima dan bersesuaian dengan Kitab Allah tidak diragukan datangnya daripada aku dan Hadith-hadith yang kamu terima yang bertentangan dengan Kitab Allah, sesungguhnya bukan datang daripadaku.” [Al-Kulaini, al-Kafi, Jilid I, Hadith 205-5]. Pengertian umum, Ahlul Sunnah ialah sesiapa yang mengikut Sunnah Nabi SAWA kemudian ia dihimpun kepada empat madzhab fiqh yang diketuai oleh Imam Malik yang lahir pada tahun 95 Hijrah dan meninggal tahun 179 Hijrah, Abu Hanifah yang lahir tahun 80 Hijrah dan meninggal tahun 150 Hijrah, Syafie yang lahir tahun 150 Hijrah dan meninggal tahun 204 Hijrah, dan Ibnu Hanbal yang lahir tahun 164 Hijrah dan meninggal tahun 241 Hijrah.

 

 

 

 

MENGENAL KONSEP IMAMAH

Bismillahirahmani rahim

 

12 Khalifah versus 12 Imam Memang benar kiamat semakin mendekat, hampir semua tanda yang ada di dalam hadits sudah terjadi. Tetapi Kekhalifan di akhir zaman memang belum jelas, seperti konsep Imam Mahdi dalam Suni berbeda dengan Syiah. Hadis-hadis tentang akhir zaman juga sebagian saling berlawanan, karena ada perbedaan . Yang harus menjadi pegangan adalah kita tidak boleh menyalahkan kelompok-kelompok Muslim yang lain, apalagi menganggap kelompok nya sendiri yang paling benar. Kini telah banyak berita baik dari luar maupun dari dalam negeri kita sendiri tanpa segan segan mengklaim dirinya menjadi Imam Mahdi. Cukup hal ini menjadi kewaspadaan kita semua, bahwa kebenaran pada akhirnya bukan ada pada pengakuan tapi kekuatan dari kebenaran itu sendiri yang melekat pada si person nya, sehingga bila IMAM MAHDI yang sejati muncul – tak ada satu orang Islam pun yang meragukannya. Saya tertarik membahas masalah ini karena di banyak situs diceritakan tentang kekacau-an dahsyat di akhir zaman yang juga sekarang bahkan diminati oleh kaum SALAFI yang sebelumnya sangat enggan mengupas IMAM MAHDI yang semua naskah menunjukkan dari keturunan Ahlul Bait.

 

Walau sepakat asal usul keturunan, tapi Suni dan Syiah berbeda dalam menentukan exact person nya. Apalagi dalam Syiah ditambah ketentuan harus yang terakhir dari urutan 12 Imam , yang logikanya Imam ke 12 (IMAM MAHDI) sudah lahir dari jaman dulu sekali..dan harus LENYAP bukan MATI . Dalam konteks ini sebuah riwayat 12 khalifa yang tersebut  terdapat dalam kitab Shahih Muslim , sabda Rasul SAW :” Umat Islam tak akan pernah binasa sampai selesai memerintah 12 Khalifa” adalah sangat akurat. Ketika shahabat Jabir perawi hadits melihat Rasul mengisyaratkan sesuatu, ayahanda beliau mentafsirkan 12 Khalifah itu dari (keturunan) Quraisy, yang nota bene khalifah ke 12 itulah IMAM MAHDI karena keturunan AHLUL BAIT pasti juga keturunan QURAISY (bukan sebaliknya)sedangkan posisi Khalifah ke 12 atau Imam Mahdi adalah satu-satunya dari 12 Khalifah yang BISA DIPASTIKAN DARI KETURUNAN AHLUL BAIT karena hadits-hadits yang mutawatir baik dari jalur Syi’ah dan Suni. Jadi logika nya 12 khalifah itu adalah Amirul Mukminin besar yang diridhai Allah dan atau punya prestasi gemilang,  Kini walaupun konsep tersebut masih diperdebatkan dari berbagai pihak baik ahlu sunah maupun dari syiah, tidak seharusnya masalah perbedaan tersebut lantas menjadikan kita bercerai berai. tetapi mari kita memahaminya sebagai suatu rangkaian sunatullah dalam menjalankan syariat ini.

 

Allahumma Shalli ala Muhammad wa’aali Muhammad

 

Wassalamualaikum

Iran Lebihkan Jumlah Rudal yang Diuji

Sabtu, 12 Juli 2008 | 07:32 WIB

LONDON, SABTU - Dari analisis pakar pertahanan, Kamis (10/7), rupanya Iran merekayasa jumlah peluru kendali yang ditembakkan selama dua hari terakhir ini. Iran juga melebih-lebihkan kemampuan persenjataan yang mereka miliki.

Pakar pertahanan dari Institut Internasional Studi Strategi, London, Mark Fitzpatrick, menegaskan, berdasarkan hasil analisis beberapa foto jepretan kantor berita AFP, tampak jelas Iran telah merekayasa atau memalsukan jumlah rudal yang ditembakkan. Dari beberapa foto tampak bahwa Iran sebenarnya hanya menembakkan tiga rudal pada hari kedua. ”Sejak awal tujuan uji rudal hanya untuk menunjukkan kekuatan persenjataan Iran,” katanya.

Foto-foto yang dipublikasikan Garda Revolusi Iran di situs internet kantor berita Sepah itu menunjukkan empat rudal sedang lepas landas di gurun pasir.

Dari foto-foto itu terlihat ada satu rudal rekaan atau tambahan dengan memakai elemen asap rudal-rudal yang ada di sebelahnya. ”Foto itu sudah jelas dimanipulasi,” kata Gerard Issert, teknisi di Grano (salah satu laboratorium foto terbesar di Paris, Perancis).

Selama dua hari terakhir, Iran mengklaim menembakkan paling tidak 12 rudal jenis Shahab-3, dengan hulu ledak konvensional seberat 1 ton dan berdaya jangkau 2.000 kilometer. ”Sebenarnya itu tidak mungkin. Shahab-3 normalnya punya daya jangkau 1.300 kilometer. Memang bisa saja makin jauh hingga 2.000 kilometer. Namun perlu ada hulu ledak yang lebih ringan,” kata Fitzpatrick.

Benar atau tidaknya foto hasil uji rudal Iran itu, juru bicara Departemen Pertahanan AS Geoff Morrell mengingatkan, uji coba itu hanya upaya Iran untuk menunjukkan kekuatan serta mengintimidasi negara-negara lain, bukan benar-benar untuk menguji kemampuan rudalnya.

Tidak perlu

Menurut Pemerintah Rusia, uji rudal Iran menunjukkan ternyata kekuatan rudal Iran terbatas. Karena itu, sistem pertahanan rudal AS yang akan dipasang di wilayah Eropa sebenarnya tidak akan berguna. ”Dengan kekuatan berdaya jangkau 2.000 kilometer itu, saya kira AS tidak perlu menanggapi ancaman seperti itu. Kami yakin isu Iran bisa diselesaikan dengan negosiasi dan melalui diplomasi, bukan dengan ancaman-ancaman,” kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Ia menambahkan, AS boleh saja melanjutkan upaya membangun sistem pertahanan itu, tetapi tindakan itu jelas satu pihak. Padahal, yang dibutuhkan kesepakatan bersama.

 
luk
Sumber : Kompas

PBB Selidiki Pembunuhan Benazir

Jumat, 11 Juli 2008 | 14:00 WIB

NEW YORK, JUMAT – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon setuju membentuk komisi independen untuk menyelidiki pembunuhan mantan PM Pakistan Benazir Bhutto

Kantor Ban membenarkan pembentukan komisi itu setelah sebelumnya diumumkan oleh Menlu Pakistan Shah Mahmood Qureshi. “Tujuannya adalah mengidentifikasi pelaku dan kelompok yang mengorganisasi serta mendanai pembunuhan itu,” kata Qureshi kepada wartawan setelah bertemu secara pribadi dengan Ban, Kamis (10/7) atau Jumat waktu Indonesia.

Kepastian siapa yang berada di belakang itu bisa membantu menstabilkan kondisi negara sekutu AS dalam memerangi terorisme. Namun, saat ini Pakistan terus digoyang kelompok-kelompok militan seperti Al Qaeda yang masih bercokol di wilayahnya.

Pemerintah sebelumnya menuduh Taliban di Pakistan sebagai pembunuh Bhutto, namun kecurigaan di seputar kematian Benazir lebih luas dari itu, bahkan salah satu tuduhan dialamatkan ke pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah ingin mendapatkan kepastian soal itu. Qureshi memastikan Ban akan menunjuk orang-orang tepercaya untuk duduk di komisi itu.

“Kami mencapai kesepakatan dan ada keputusan konkret soal itu. Yang kami diskusikan dan konsultasi selanjutnya yang dibutuhkan dilakukan sesuatu,” kata Qureshi.

Kantor Ban, dalam pernyataannya, menyebutkan, kesepahaman yang luas telah dicapai soal pembentukan komisi itu, termasuk bagaimana membiayainya, siapa saja yang harus menjadi anggota, bagaimana melindungi independensi dan ketidakberpihakannya, serta tidak ada yang boleh menghalangi akses komisi ini untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Namun, Ban juga masih harus membicarkan itu dengan Pakistan dan pejabat PBB lainnya untuk menyusun detail komisi itu.

Qureshi yakin Ban punya otoritas tanpa persetujuan DK PBB untuk membentuk komisi itu. Qureshi juga mengatakan, telah berbicara dengan sejumlah pemimpin dewan dan mereka mendukung pembentukan komisi itu. “Ada kesepakatan bahwa tugas itu harus diselesaikan secepatnya, jadi kami tidak ingin ini menjadi berpanjang-panjang sampai bertahun-tahun,” katanya.

Benazir tewas ditembak pada 27 Desember 2007 dan diikuti ledakan bom saat ia meninggalkan lokasi kampanye di Rawalpindi. Kematiannya mengejutkan dunia dan Pakistan, memicu aksi kekerasan berikutnya dan memunculkan dugaan bahwa agen-agen intelijen Pakistan terlibat dalam pembunuhan itu.

Namun, pembunuhan itu diduga mendukung kemenangan Partai Rakyat Pakistan dalam pemilihan umum bulan Februari. Buntutnya, partai ini membangun pemerintahan koalisi yang memungkinkan terbentuknya komisi PBB untuk menyelidiki kematian Benazir. Sebelumnya, pemerintahan Presiden Pervez Musharraf minta bantuan penyelidik federal Inggris, Scotland Yard, untuk menyelidiki pembunuhan itu.

SAS
Sumber : AP